|
Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya. Demikian kutipan sinopsis di sampul belakang buku ini. Membaca The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis) memang lebih nikmat jika kita makin sedikit tahu. John Boyne, sang penulis, mengisi halaman demi halaman dengan informasi yang membuat kejutan di akhir buku. Tokoh utama buku ini adalah anak berusia 9 tahun bernama Bruno, yang hidup pada masa Perang Dunia II. Buku ini dimulai ketika Bruno, yang anak perwira Jerman, bersiap-siap pindah ke kota lain karena tugas ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga untuk pindah. Di tempat baru, Bruno bosan setengah mati hingga suatu hari dia menemukan pagar dan persahabatan yang mengubah hidupnya. Kisah tentang Holocaust dan Perang Dunia II memang sudah sering ditulis oleh banyak orang. Namun John Boyne penulis asal Irlandia ini mengambil sudut pandang yang berbeda, yang membuat novel ini memiliki efek kejutan dahsyat di akhir cerita. The Boy in the Striped Pyjamas sendiri memperoleh banyak penghargaan di Irlandia dan Inggris, dan termasuk buku yang masuk longlist Carnegie Medal. Dalam buku ini kita belajar melihat Perang Dunia II dan pembantaian kaum Yahudi dari sudut anak-anak. Bagaimana perang itu adalah tragedi bodoh yang membuat semua orang yang terlibat jadi korban. Novel ini konon masuk kategori buku anak-anak, tapi di Indonesia dikategorikan sebagai buku dewasa. Tapi memang setelah saya baca, novel ini berat jika dibaca anak-anak, dan rasanya lebih cocok untuk pembaca dewasa. Saya sendiri menangis berlinang air mata seusai membaca buku yang perih dan menyayat hati ini.
|
| Samalona August 8, 2007 02:04 AM PDT Kedengarannya novel bagus. Soal rating umur, saya kira hanya karena kita sendiri stress membaca satu buku belum tentu anak kecil juga akan seperti itu. Saya ingat ada buku yang dulu saya baca waktu kecil dan saya baca ulang; seingat saya dulu saya bisa tertawa membaca buku itu (melihat sisi humornya), tapi sekarang saya malah stress membacanya (melihat sisi perjuangan berat yang dialami tokohnya). | ||
| Leave a Comment: |