Entry: POMPEII~ROBERT HARRIS Thursday, July 19, 2007



 

Terus terang aja gue baca buku ini karena katanya bakal dibuat film dan Orlando Bloom jadi pemeran utamanya (hehehe). Tapi nggak nyesel kok karena ternyata buku ini seru banget! Beda banget sama novel berikut Robert Harris yang pernah gue baca: Imperium. Imperium lambat, terlalu cerdas, bikin ngantuk. Sementara Pompeii meskipun cerdas, tak terasa menggurui. Sebaliknya fakta-fakta sejarah maupun sains yang dipaparkan membuat cerita terasa hidup.

            Setting Pompeii pada tahun 70-an Masehi di pesisir barat Italia, yang sekarang jadi Napoli dsk. Bagi yang belum tahu, Pompeii adalah nama kota yang dikubur oleh letusan Gunung Vesuvius. Dan buku ini mengisahkan 4 hari seputar letusan mahadahsyat itu.

            Diawali 2 hari sebelum letusan, air di kota-kota seputar Pompeii mengering dan berbau sulfur. Di zaman itu orang Romawi sudah memiliki sistem distribusi dan saluran air yang sangat baik dan modern. Air dialirkan dari mata airnya di Vesuvius dengan saluran air Aqua Augusta ke kota-kota di sepanjang pesisir. (Menurut gue, Harris cerdas banget mengambil core cerita dari soal air ini.)

            Di Misenum (selatan Pompeii), insinyur air yang baru datang dari Roma, Marcus Attilius, disibukkan dengan masalah air ini. Saat bingung karena menghilangnya air, Marcus disambangi Corelia Ampliata yg histeris memintanya ikut demi menyelamatkan budak yg dibunuh ayahnya, jutawan Ampliatus, dg dilempar ke kolam belut. Budak itu dibunuh krn ikan-ikan koi peliharaannya mati semua. Sebelum dilempar ke kolam belut, budak itu berteriak bahwa yang salah airnya. Karena itulah Corelia minta tolong Attilius.

            Attilius gagal menyelamatkan budak itu, tapi kembali mendapat bukti bahwa air dari Aqua Augusta berbau belerang, plus mulai membuka hati bagi Corelia (gosipnya peran ini ditawarkan bagi Scarlett Johanssen). Ketika kemudian air Aqua Augusta untuk Misenum dan kota-kota di utaranya, kecuali Pompeii, benar-benar kering, Attilius memutuskan pergi ke Pompeii untuk menyelidiki sebabnya.

            Attilius minta kapal pada pemimpin garnisun Romawi di Misenum, Plinius. Pliny yang menganggap dirinya ilmuwan, langsung menyukai si insinyur muda, dan meminjamkan kapal untuk pergi ke Pompeii. Berangkatlah Attilius dengan anak buah yg belum akrab dengannya. Salah satu anak buahnya, sang mandor Corax, bahkan jelas-jelas menunjukkan kebencian pada Attilius.

            Di Pompeii, Attilius segera mengatur ekspedisi untuk mencari kebocoran Aqua Augusta. Tak dinyana, dia segera berbenturan dengan sang jutawan Ampliatus. Ampliatus mengajak Attilius untuk kongkalikong mengalirkan air ke spa miliknya dengan bayaran tertentu. Dasarnya lurus, Attilius menolak mentah-mentah tawaran ini, akibatnya menjadikan Ampliatus musuhnya.

            Saat Attilius berangkat ke pegunungan Vesuvius untuk mencari kebocoran, Corelia mencuri dengar rencana ayahnya membunuh Attilius. Gadis itu segera menyusul sang insinyur, selain untuk memberitahu rencana jahat itu, juga untuk memohon Attilius agar membawanya serta karena Corelia ogah dinikahkan dengan pilihan ayahnya.

            Di kaki Vesuvius, Attilius berhasil mendapati kebocoran saluran Aqua Augusta, dan menambalnya. Corelia juga berhasil menemuinya dan memberitahu rencana jahat ayahnya, tapi kebalikan dg keinginan gadis itu, Attilius menyuruhnya pulang ke Pompeii.

            Sementara itu tanda-tanda akan meletusnya Vesuvius makin nyata. Gempa-gempa kecil makin sering, dan suara gemuruh nyata terdengar. Saat anak buahnya kembali ke Pompeii, Attilius memilih mendaki Vesuvius untuk mencari tahu asal suara gemuruh dan gempa. Di puncak gunung, ia segera sadar bahwa gunung akan meletus, dan dimulailah pacuan antara manusia-kuda dengan lahar dan awan panas.

            Attilius berhasil pergi dari kaki Vesuvius dan Pompeii. Tapi gunung itu benar-benar meletus, menyebarkan abu panas, mengguncang bumi dengan gempa. Attilius ikut di barisan depan pengungsi ke kota berikut. Ia berniat terus lari ke Misenum untuk minta tolong garnisun Romawi pimpinan Pliny. Pliny memang segera menolong dengan mengerahkan seluruh kapal perang ke Pompeii untuk mengangkut pengungsi. Sayang sekali, kemarahan Vesuvius ikut membuat laut bergolak, dan armada itu musnah.

            Attilius berhasil ikut armada tersebut sampai setengah jalan kembali ke Pompeii. Teringat pada Corelia, dan rasa bersalah karena menyuruh gadis itu kembali ke Pompeii, ia berkeras ingin kembali ke sana. Di Pompeii, setelah letusan pertama, orang-orang masih berkumpul, bahkan mulai melakukan penjarahan. Attilius berhasil menemukan Corelia, tapi dia harus menghadapi Ampliatus.

            Saat ini Pompeii menjadi objek wisata. Sejak abad ke-18, diadakan penggalian situs purbakala di sana. Dari penggalian tersebut banyak temuan utuh, termasuk jasad manusia dalam pose-pose sehari-hari.

*cross-posting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*

   1 comments

fani
May 10, 2008   12:12 PM PDT
 
keren bukunya.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments