|
Gue beli buku ini karena posting di milis indobackpacker yang bilang buku ini memuat kisah perjalanan keliling Eropa, plus tokohnya kuliah di Sorbonne. Uuu... c'est mon reve eternel! Hahaha... Saat bukunya datang dari www.inibuku.com, gue langsung jatuh cinta sama foto pengarangnya. HAHAHA... Mungkin karena dia bersandar pada dinding batu yang kayaknya kuno banget, dengan pengumuman bertulisan Italia di sisinya. Tapi itu kan baru kulitnya. Isinya diawali dengan kisah nama si badung Ikal (yang ganti nama 3x) dan orang-orang yang berpengaruh baginya. Ini awalan yang bagus, terutama bagi orang yang nggak baca 2 buku sebelumnya (Laskar Pelangi & Sang Pemimpi) seperti gue. Orang2 ini jadi tetap merasa mendapat kisah yang komplet, bukan sekadar lanjutan saja. Dilanjutkan dengan permohonan beasiswa Ikal ke Uni Eropa (sialan, kalo tahu GBHN berguna, mungkin dulu gue lebih mantengin MKDU! Hahaha), dan berangkatnya Ikal serta Arai ke Eropa. Terlunta sejenak di Belanda, sebelum akhirnya mendarat di Sorbonne. Selanjutnya, kisah tentang kuliah, teman-teman kuliah, serta percintaan Ikal. Sampai akhirnya taruhan yang membuat Ikal, Arai, dan semua teman kuliah mereka jadi keliling Eropa (dan Afrika) dengan mengamen di suatu libur musim panas. Diseling juga dengan kisah cinta mati Arai pada Zakiah Nurmala, dan Ikal pada Njoo Xian Ling. Ada bagian-bagian yang menyentuh bagi gue, misalnya saat Ikal terharu mendengar lagu Anggun, Snow on the Sahara. Rasa kebangsaan gue ikut terusik dan tersentuh. Manisnya mendengar orang negeri sendiri tenar di dunia internasional. Gue juga tersentuh pada kisah cinta (platonis banget, actually) Ikal dan Katya, dan kisah Ikal dan A Ling--zahir-nya. I wonder, apakah Andrea Hirata sempat membaca Zahir-nya Paulo Coelho sebelum menyelipkan kisah Ikal dan A Ling. Gue juga senang banget novel ini karena dia cerdas, dalam artian menyelipkan bumbu ilmu dengan luwes, tidak menggurui, tidak sekadar menempelkan. Seperti dalam Mimpi-Mimpi Einstein. Yang bagus juga, buku ini penuh semangat, keceriaan, kenekatan, optimisme. Yang membungkus semua hingga cacatnya tertutupi. Impresi lain yang gue dapat dari buku ini adalah gaya Melayu-nya yang kental sekali. Gue berusaha membayangkan di buku mana lagi gue mendapat gaya seperti ini? Dan berbagai nama pengarang Indonesia zaman dulu yang mampir ke kepala gue. Gue berusaha membayangkan karya-karya pengarang luar negeri. Nope, gak bisa... gayanya beda banget! So, mungkinkah ini gaya yang indigenous Indonesia? hihihi... Sayang sekali, novel ini juga tidak luput dari cacat. Antara lain yang paling mengganggu gue adalah keterangan tentang Benjamin Franklin yang disebut Presiden AS yang menghapus perbudakan (itu Abraham Lincoln, Ben Franklin TIDAK PERNAH jadi presiden AS) dan percakapan. Entah kenapa percakapan dalam buku ini kalimatnya disusun vertikal, padahal itu membuat pembaca CAPEK. Tapi all in all, novel ini sangat enak dinikmati kok... |
| ade July 11, 2009 02:08 PM PDT je aime tu . edensor very wonderfull . gue pingin banget diajak ikal ke edensor yang indah | ||
| web design June 25, 2009 03:25 PM PDT MEMANG LUCU LA CERITA TU | ||
| malaysia web design June 23, 2009 11:58 AM PDT kurang setuju | ||
| malaysia seo April 16, 2009 05:15 PM PDT SETUJU PA WEI | ||
| Name April 16, 2009 05:12 PM PDT SAYA PUN SETUJU | ||
| kutukutubuku.com August 19, 2008 01:12 PM PDT I love love love edensor. One of the best indonesian novel ever written. | ||
| Vina June 19, 2008 07:15 AM PDT If you like Edensor, try to read the two previous books, they're actually based on true stories. By the way, I reaaaallly like your site. I'll visit often :) | ||
| me love April 21, 2008 09:05 AM PDT Sama!!! 100 % setuju bgt ma cjdw. rasa melayunya kentel bgt, n bener-bener bikin gw pengen nyobain jadi backpacker hoho, kayanya seru ya... jadi pengen kul di luar jg... hahaha worth to have n worth (bgt) to read ;) | ||
| Leave a Comment: |