Photobucket - Video and Image Hosting




Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat.... Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
   

<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29



Authors:


� coffeeaddict
� caramelll
� pepsi-cola
� shoeGirl
� tahutempe
� snoopdin
� cjdw
� mataempat







Untuk pencarian buku lain, silakan gunakan:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Kupunyabuku



Anda Pengunjung ke:





Another blog posts
Postings in Chihiro's Box (snoopdin):
Chihiro's Box

Posting in kupunyafilm:
http://kupunyafilm.blogdrive.com




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Monday, February 11, 2008
The Appeal by John Grisham

Mr. Grisham did it again. He's back in the game, on his familiar turf, the thing that made him a rich man.

Unusually, the book started with a verdict. If you want to know what happens after the end of Erin Brokovich (Julia Roberts) and A Civil Action (John Travolta), this is it. The case was Jeanette Baker v. Krane Chemical. Baker, the widow, survived her husband and son, who died of cancer which supposedly caused by irresponsible and illegal chemical disposal by Krane Chemical in a small town in Mississippi. The disposal and spillage contaminated the water that run through their town, and so great was the rates of cancer---15 times above the national average---that their Cary County was infamously known as Cancer County.

This is a story about David versus Goliath, where David was the dejected victims and their lawyers who had lost all their money in pursuit of justice, and Goliath was Krane Chemical, the evil corporate America, with Carl Trudeau as the owner, a Wall Street predator.

But actually... Goliath was even bigger than that. Because Trudeau found the supreme court judges were not friendly enough, he decided to buy a judicial seat in the upcoming election. Millions and millions of dollar poured down to launch the oblivious perfect-and-straight-to-the-core candidate, and tricks after dirty tricks of campaigning were whipped out, without the voters having a single clue what was behind all the drama.

In the course of reading about the campaign, I sometimes forgot about Jeanette Baker and the victims of Cancer County. Thus was the state of politics, in my humble opinion. The people is forgotten and the big goal is on the main stage, lashing out pretty but poisonous promises to unsuspecting voters, not unlike a wolf in sheep's clothing.

Mr. Grisham was adamant to show us the uglier facade of politics. Sometimes he got a little carried away picturing the goody-goody David and the heartless Trudeau. But hey, what's a fiction without such extremes?

All in all, it's a good one from Mr. Grisham, who had distracted over the years to the land of baseball (Bleachers), Italiano la dolce vita (The Broker), baseball plus Italiano la dolce vita (Playing for Pizza), and nonfiction (The Innocent Man). This is a legal thriller dripping with sarcasms and so much personal view on politics and justice system. Never again you will see electoral process and politics the same way.


Posted at 09:18 am by ShoeGirl
Comments (1)  

Friday, July 20, 2007
The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis) - John Boyne

 

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Demikian kutipan sinopsis di sampul belakang buku ini.

Membaca  The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis) memang lebih nikmat jika kita makin sedikit tahu. John Boyne, sang penulis, mengisi halaman demi halaman dengan informasi yang membuat kejutan di akhir buku.

Tokoh utama buku ini adalah anak berusia 9 tahun bernama Bruno, yang hidup pada masa Perang Dunia II. Buku ini dimulai ketika Bruno, yang anak perwira Jerman, bersiap-siap pindah ke kota lain karena tugas ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga untuk pindah. Di tempat baru, Bruno bosan setengah mati hingga suatu hari dia menemukan pagar dan persahabatan yang mengubah hidupnya.

Kisah tentang Holocaust dan Perang Dunia II memang sudah sering ditulis oleh banyak orang.  Namun John Boyne penulis asal Irlandia ini mengambil sudut pandang yang berbeda, yang membuat novel ini memiliki efek kejutan dahsyat di akhir cerita. The Boy in the Striped Pyjamas sendiri  memperoleh banyak penghargaan di Irlandia dan Inggris, dan termasuk buku yang masuk longlist Carnegie Medal.

Dalam buku ini kita belajar melihat Perang Dunia II dan pembantaian kaum Yahudi dari sudut anak-anak. Bagaimana perang itu adalah tragedi bodoh yang membuat semua orang yang terlibat jadi korban.

Novel ini konon masuk kategori buku anak-anak, tapi di Indonesia dikategorikan sebagai buku dewasa. Tapi memang setelah saya baca, novel ini berat jika dibaca anak-anak, dan rasanya lebih cocok untuk pembaca dewasa. Saya sendiri menangis berlinang air mata seusai membaca buku yang perih dan menyayat hati ini.

 


Posted at 02:31 pm by editor
Comments (1)  

Thursday, July 19, 2007
POMPEII~ROBERT HARRIS

 

Terus terang aja gue baca buku ini karena katanya bakal dibuat film dan Orlando Bloom jadi pemeran utamanya (hehehe). Tapi nggak nyesel kok karena ternyata buku ini seru banget! Beda banget sama novel berikut Robert Harris yang pernah gue baca: Imperium. Imperium lambat, terlalu cerdas, bikin ngantuk. Sementara Pompeii meskipun cerdas, tak terasa menggurui. Sebaliknya fakta-fakta sejarah maupun sains yang dipaparkan membuat cerita terasa hidup.

            Setting Pompeii pada tahun 70-an Masehi di pesisir barat Italia, yang sekarang jadi Napoli dsk. Bagi yang belum tahu, Pompeii adalah nama kota yang dikubur oleh letusan Gunung Vesuvius. Dan buku ini mengisahkan 4 hari seputar letusan mahadahsyat itu.

            Diawali 2 hari sebelum letusan, air di kota-kota seputar Pompeii mengering dan berbau sulfur. Di zaman itu orang Romawi sudah memiliki sistem distribusi dan saluran air yang sangat baik dan modern. Air dialirkan dari mata airnya di Vesuvius dengan saluran air Aqua Augusta ke kota-kota di sepanjang pesisir. (Menurut gue, Harris cerdas banget mengambil core cerita dari soal air ini.)

            Di Misenum (selatan Pompeii), insinyur air yang baru datang dari Roma, Marcus Attilius, disibukkan dengan masalah air ini. Saat bingung karena menghilangnya air, Marcus disambangi Corelia Ampliata yg histeris memintanya ikut demi menyelamatkan budak yg dibunuh ayahnya, jutawan Ampliatus, dg dilempar ke kolam belut. Budak itu dibunuh krn ikan-ikan koi peliharaannya mati semua. Sebelum dilempar ke kolam belut, budak itu berteriak bahwa yang salah airnya. Karena itulah Corelia minta tolong Attilius.

            Attilius gagal menyelamatkan budak itu, tapi kembali mendapat bukti bahwa air dari Aqua Augusta berbau belerang, plus mulai membuka hati bagi Corelia (gosipnya peran ini ditawarkan bagi Scarlett Johanssen). Ketika kemudian air Aqua Augusta untuk Misenum dan kota-kota di utaranya, kecuali Pompeii, benar-benar kering, Attilius memutuskan pergi ke Pompeii untuk menyelidiki sebabnya.

            Attilius minta kapal pada pemimpin garnisun Romawi di Misenum, Plinius. Pliny yang menganggap dirinya ilmuwan, langsung menyukai si insinyur muda, dan meminjamkan kapal untuk pergi ke Pompeii. Berangkatlah Attilius dengan anak buah yg belum akrab dengannya. Salah satu anak buahnya, sang mandor Corax, bahkan jelas-jelas menunjukkan kebencian pada Attilius.

            Di Pompeii, Attilius segera mengatur ekspedisi untuk mencari kebocoran Aqua Augusta. Tak dinyana, dia segera berbenturan dengan sang jutawan Ampliatus. Ampliatus mengajak Attilius untuk kongkalikong mengalirkan air ke spa miliknya dengan bayaran tertentu. Dasarnya lurus, Attilius menolak mentah-mentah tawaran ini, akibatnya menjadikan Ampliatus musuhnya.

            Saat Attilius berangkat ke pegunungan Vesuvius untuk mencari kebocoran, Corelia mencuri dengar rencana ayahnya membunuh Attilius. Gadis itu segera menyusul sang insinyur, selain untuk memberitahu rencana jahat itu, juga untuk memohon Attilius agar membawanya serta karena Corelia ogah dinikahkan dengan pilihan ayahnya.

            Di kaki Vesuvius, Attilius berhasil mendapati kebocoran saluran Aqua Augusta, dan menambalnya. Corelia juga berhasil menemuinya dan memberitahu rencana jahat ayahnya, tapi kebalikan dg keinginan gadis itu, Attilius menyuruhnya pulang ke Pompeii.

            Sementara itu tanda-tanda akan meletusnya Vesuvius makin nyata. Gempa-gempa kecil makin sering, dan suara gemuruh nyata terdengar. Saat anak buahnya kembali ke Pompeii, Attilius memilih mendaki Vesuvius untuk mencari tahu asal suara gemuruh dan gempa. Di puncak gunung, ia segera sadar bahwa gunung akan meletus, dan dimulailah pacuan antara manusia-kuda dengan lahar dan awan panas.

            Attilius berhasil pergi dari kaki Vesuvius dan Pompeii. Tapi gunung itu benar-benar meletus, menyebarkan abu panas, mengguncang bumi dengan gempa. Attilius ikut di barisan depan pengungsi ke kota berikut. Ia berniat terus lari ke Misenum untuk minta tolong garnisun Romawi pimpinan Pliny. Pliny memang segera menolong dengan mengerahkan seluruh kapal perang ke Pompeii untuk mengangkut pengungsi. Sayang sekali, kemarahan Vesuvius ikut membuat laut bergolak, dan armada itu musnah.

            Attilius berhasil ikut armada tersebut sampai setengah jalan kembali ke Pompeii. Teringat pada Corelia, dan rasa bersalah karena menyuruh gadis itu kembali ke Pompeii, ia berkeras ingin kembali ke sana. Di Pompeii, setelah letusan pertama, orang-orang masih berkumpul, bahkan mulai melakukan penjarahan. Attilius berhasil menemukan Corelia, tapi dia harus menghadapi Ampliatus.

            Saat ini Pompeii menjadi objek wisata. Sejak abad ke-18, diadakan penggalian situs purbakala di sana. Dari penggalian tersebut banyak temuan utuh, termasuk jasad manusia dalam pose-pose sehari-hari.

*cross-posting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*


Posted at 03:05 pm by cjdw
Comments (1)  

Friday, June 29, 2007
Lovasket ~ Luna Torashyngu

Ini dia karya terbaru pengarang TeenLit paling produktif. Sejak 2005, Luna Torashyngu sudah menerbitkan 6 buku (Love Detective, Victory, Beauty and the Best, Dua Rembulan, Angel's Heart, dan Lovasket), dus rata-rata 2 novel per tahun, dengan kualitas yang bagus, dalam artian alur cerita lumayan menarik, tokoh-tokoh yang kuat, membawa pesan-pesan "moral" yang baik bagi pembaca.

Bagi gue, Lovasket punya kelas tersendiri di antara novel-novel Luna. Lovasket punya aksi yang seru, juga alur yang bulat. Meski awalnya ada rasa mirip-mirip dengan film remaja yang ada di pasaran (sebenarnya semua novel Luna punya
rasa ini, tapi  entah bagaimana toh berbeda dengan film-film remaja/sinetron yang
ada di pasaran), tapi akhirnya Lovasket bisa membawa kita masuk ke dunianya sendiri. Ceritanya juga lumayan dekat dengan kehidupan orang Indonesia, jadi sama sekali tidak mengambang.

Alkisah, Vira memiliki segalanya dalam hidup (duh). Ortu kaya (bapaknya Direktur cabang salah satu bank pemerintah di Bandung), harta-benda tercukupi, teman-teman (Vira ketua geng The Roses), sekolah elite, dan jagoan basket (Vira MVP Kejuaraan Basket se-Jawa-Bali). Imaji indah itu buyar ketika ayah Vira dituduh korupsi dan ditahan di penjara.

Wuush... mendadak Vira dan ibunya harus keluar dari istana mereka, terpaksa
tinggal di rumah kecil dengan harta seadanya. Vira kehilangan pacar, teman,
dan sekolah saat dia menolak berhubungan badan dengan pacarnya (anak ketua
yayasan sekolah) yang memanfaatkan sikon. Ia terpaksa masuk ke sekolah negeri di
pinggiran Bandung. Dalam situasi baru ini Vira seolah mematikan dirinya: ogah berteman, ogah main basket, ogah hidup.

Ibu Vira berusaha memperbaiki kondisi anaknya dengan minta tolong Niken. Niken adalah Ketua OSIS di SMA baru Vira. Sebetulnya urusan Niken sudah banyak, antara lain menyeleksi ekskul yang akan ditutup dan dipertahankan. Maklum, SMA miskin jadi tidak bisa memiliki ekskul terlalu banyak.

Salah satu ekskul yang jadi perhatian Niken adalah basket, karena sahabat SMP-nya, Rei, jadi ketua ekskul itu. Tahu bahwa Vira pernah jadi MVP, Niken membujuk cewek itu untuk ikut ekskul basket dan mengangkat nama sekolah supaya ekskul tersebut tidak ditutup.

Melalui pergulatan panjang, akhirnya Vira bergabung dengan tim basket, dan puncaknya bertanding melawan bekas sekolahnya. Beberapa pertandingan basket yang seru mewarnai sepanjang novel ini.

Selain tulang punggung cerita: hubungan Vira-Niken, juga basket, yang kuat. Novel ini juga menyinggung perbedaan kaya-miskin, persahabatan sejati, cinta remaja, tanggung jawab, dalam side stories-nya. Bagusnya lagi side stories ini dikisahkan dengan menyatu, tidak sekadar tempelan. Pesan-pesannya pun tidak terasa menggurui tapi sangat menyatu dengan keseluruhan ceritanya.

Novel ini sangat ringan tapi dalam dan membangkitkan semangat juga, enak buat jadi bacaan di akhir minggu.

Posted at 01:38 pm by cjdw
Comments (11)  

Edensor ~ Andrea Hirata

Saat baca buku ini, gue berulang kali tertawa, nyengir, terenyuh, tergugah. Jadi gue simpulkan bahwa buku ini bagus.

Gue beli buku ini karena posting di milis indobackpacker yang bilang buku ini memuat kisah perjalanan keliling Eropa, plus tokohnya kuliah di Sorbonne. Uuu... c'est mon reve eternel! Hahaha... Saat bukunya datang dari www.inibuku.com, gue langsung jatuh cinta sama foto pengarangnya. HAHAHA... Mungkin karena dia bersandar pada dinding batu yang kayaknya kuno banget, dengan pengumuman bertulisan Italia di sisinya. Tapi itu kan baru kulitnya.


Isinya diawali dengan kisah nama si badung Ikal (yang ganti nama 3x) dan orang-orang yang berpengaruh baginya. Ini awalan yang bagus, terutama bagi orang yang nggak baca 2 buku sebelumnya (Laskar Pelangi & Sang Pemimpi) seperti gue. Orang2 ini jadi tetap merasa mendapat kisah yang komplet, bukan sekadar lanjutan saja. Dilanjutkan dengan permohonan beasiswa Ikal ke Uni Eropa (sialan, kalo tahu GBHN berguna, mungkin dulu gue lebih mantengin MKDU! Hahaha), dan berangkatnya Ikal serta Arai ke Eropa. Terlunta sejenak di Belanda, sebelum akhirnya mendarat di Sorbonne. Selanjutnya, kisah tentang kuliah, teman-teman kuliah, serta percintaan Ikal. Sampai akhirnya taruhan yang membuat Ikal, Arai, dan semua teman kuliah mereka jadi keliling Eropa (dan Afrika) dengan mengamen di suatu libur musim panas. Diseling juga dengan kisah cinta mati Arai pada Zakiah Nurmala, dan Ikal pada Njoo Xian Ling.


Ada bagian-bagian yang menyentuh bagi gue, misalnya saat Ikal terharu mendengar lagu Anggun, Snow on the Sahara. Rasa kebangsaan gue ikut terusik dan tersentuh. Manisnya mendengar orang negeri sendiri tenar di dunia internasional. Gue juga tersentuh pada kisah cinta (platonis banget, actually) Ikal dan Katya, dan kisah Ikal dan A Ling--zahir-nya. I wonder, apakah Andrea Hirata sempat membaca Zahir-nya Paulo Coelho sebelum menyelipkan kisah Ikal dan A Ling.


Gue juga senang banget novel ini karena dia cerdas, dalam artian menyelipkan bumbu ilmu dengan luwes, tidak menggurui, tidak sekadar menempelkan. Seperti dalam Mimpi-Mimpi Einstein.


Yang bagus juga, buku ini penuh semangat, keceriaan, kenekatan, optimisme. Yang membungkus semua hingga cacatnya tertutupi.

Impresi lain yang gue dapat dari buku ini adalah gaya Melayu-nya yang kental sekali. Gue berusaha membayangkan di buku mana lagi gue mendapat gaya seperti ini? Dan berbagai nama pengarang Indonesia zaman dulu yang mampir ke kepala gue. Gue berusaha membayangkan karya-karya pengarang luar negeri. Nope, gak bisa... gayanya beda banget! So, mungkinkah ini gaya yang indigenous Indonesia? hihihi...

Sayang sekali, novel ini juga tidak luput dari cacat. Antara lain yang paling mengganggu gue adalah keterangan tentang Benjamin Franklin yang disebut Presiden AS yang menghapus perbudakan (itu Abraham Lincoln, Ben Franklin TIDAK PERNAH jadi presiden AS) dan percakapan. Entah kenapa percakapan dalam buku ini kalimatnya disusun vertikal, padahal itu membuat pembaca CAPEK.

Tapi all in all, novel ini sangat enak dinikmati kok...



Posted at 01:35 pm by cjdw
Comments (8)  

Thursday, May 31, 2007
Mandala~Pearl S. Buck

Gue jadi ingat bahwa gue punya buku ini saat dia diterbitkan ulang bulan Mei ini. So, gue bongkar-bongkar kardus, dan voila! Memang gue punya, bahkan masih disampul plastik. Dan mulailah gue membaca.
Seperti karya-karya Pearl S. Buck lainnya, Mandala sangat mengalir dan menyentuh. Konfliknya pun masih antara Barat dan Timur, lama dan baru. Mungkin ini konflik yang paling mengemuka di masa aktif pengarangnya menulis (sekitar tahun 1920-1950-an).
Alkisah Maharana Jagat dari Amarpur, Rajasthan, India ingin mengubah istana danaunya menjadi hotel. Soalnya saat India merdeka, dia tidak lagi bisa memungut pajak dari tanah-tanahnya. Tanah-tanahnya itu pun dikurangi luasnya oleh pemerintah. Tapi di lain pihak, Jagat tetap harus membayar para pelayannya, mengelola istana-istana dan tanah yang masih tersisa, menyekolahkan anak-anaknya, dan menafkahi istrinya. Singkatnya mempertahankan gaya hidup yang kadung mewah.
Maka mulailah sang maharana mengerjakan proyek besarnya merenovasi istana danau hingga menjadi hotel kelas internasional. Dia memanggil arsitek dari Amerika, Bert Osgood, untuk mengerjakan renovasi itu. Deskripsi kemegahan dan kemewahan istana danau ini (juga istana yang Jagat tinggali) sangat patut disimak dan pasti membuat tercengang-cengang pada betapa meriahnya hidup para bangsawan lama.
Di lain pihak, Buck juga menceritakan tentang Moti, sang maharani, yang pendiam tapi cerdas menguasai berbagai bahasa. Moti modern sekaligus tradisional. Dia istri India yang menikah karena dijodohkan, tanpa cinta, selalu patuh pada suami, tidak pernah meminta.
Dan anggota lain keluarga Jagat: anak-anaknya Jai dan Veera. Jai yang berusia 18 tahun pergi berperang melawan Cina dan tewas, membuat keluarganya gonjang-ganjing karena ibunya percaya Jai belum mati. Akibatnya Moti memohon Jagat mencari Jai. Dalam pencarian, Jagat malah bertemu dan akhirnya bercinta dengan gadis Amerika, Brooke.
Baru dari gadis inilah Jagat merasakan cinta yang sesungguhnya, bukan akibat perjodohan orangtua. Tapi karena India sudah modern, Jagat tidak bisa seenaknya membuat harem dan menjadikan Brooke istri kedua. Mereka akhirnya harus menyembunyikan hubungan mereka.
Masalah Jagat bertambah ketika putrinya, Veera, naksir Bert Osgood. Karena Veera sudah ditunangkan, Bert terpaksa mengalah dan pergi dari India, meninggalkan hotel istana danau tepat saat akan dibuka.
Tarik-menarik antara dunia baru dan lama, tradisi dan modernitas, orangtua dan anak, sangat kuat tergambar dalam novel ini. Meskipun beberapa novel Pearl S. Buck lain lebih kuat, tapi Mandala tetap merupakan bacaan yang enak dinikmati sebelum tidur.

*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*



Posted at 01:19 pm by cjdw
Comments (4)  

Next Page