Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat....
Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
|
 |
Thursday, December 30, 2004
Cosmo and the Magic Sneeze - Gwyneth Rees
COSMO AND THE MAGIC SNEEZE – Gwyneth Rees
Kisah anak kucing sihir yang tadinya deg-degan karena akan ditraining jadi witch cat tapi akhirnya malah berhasil membongkar penipuan yang dilakukan penyihir yang bakal jadi tuannya.
Kisah kompletnya nyusul yeee… Ini cuma test kok :-p
Posted at 03:32 pm by caramelll
Permalink
LET'S GO, FATIMAH! by Sri Izzati
Rasanya akhir-akhir ini banyak penulis muda yang bermunculan meramaikan dunia tulis-menulis. Beberapa di antara mereka bahkan mudaaaa bangetttt dan terus terang bikin saya yang "senior" (maksudnya dalam hal umur lho..., soalnya kalau dalam hal yang lain kan belum tentu) jadi minder ;-p Wow, semuda itu dah bikin buku lho, how cool is that??? Bikin penasaran sebenarnya gimana sih kalau anak usia SD nulis buku....
Anyway, salah satu buku yang I finnaly pick up adalah Let's Go, Fatimah! karangan Sri Izzati. Saya dengar anak umur 8 (ataukah 9) tahun ini barusan dapat penghargaan MURI sebagai penulis termuda Indonesia.
Covernya keren, lucu, dan agak mengingatkan saya pada gambar-gambar serial Tini. Pas dibuka, rasanya saya jadi bernostalgia sama buku teks pelajaran Bahasa Indonesia zaman kecil dulu: ukuran font dan ilustrasi dalam besar-besar ;-))
Kisahnya sendiri berkisar pada Fatimah si tokoh utama yang ayahnya di PHK. Ibu Fatimah kini sedang mengandung dan dua adik Fatimah masih kecil, sehingga Fatimah tergerak hatinya buat membantu meringankan masalah keuangan negara eh... maksud saya, keluarga dengan menjadi penjual koran, bantu-bantu di toko maupun di rumah tetangga. Fatimah diceritakan bolak-balik rindu sama kehidupannya yang dulu, yang bisa makan sepuasnya, beli mainan semaunya, pergi jalan-jalan kapan saja, dsb. Makanya dia menabung dan bertekad sekolah yang benar supaya bisa sukses. Konflik muncul ketika salah satu sahabat Fatimah, Ine, ternyata sakit parah dan memerlukan obat. Relakah Fatimah memecah celengan tabungannya demi membeli obat untuk Ine?
Secara keseluruhan, plot cerita tidak terlalu kuat, dan (memang) seperti membaca buku teks pelajaran Bahasa Indonesia, kelanjutan cerita sepertinya nyaris selalu bisa ditebak. But hey, I won't complain too much, karena untuk anak seumur dia, bisa merangkai begitu banyak kata, kalimat, hingga menjadi paragraf, bab, dan akhirnya satu buku sendiri saja... pastinya masih membuat saya minderrrr ;-p
Ayo adik-adik, jangan berhenti nulis, terus bikin cerita yaaa... :-))
Posted at 02:30 pm by snoopdin
Permalink
BOTCHAN by Natsume Soseki
Awalnya gara-gara malu banget, sering bilang "saya penggemar J-Pop" tapi kok koleksi novel Jepang yang pernah dibaca, kayaknya habis itungan setelah satu tangan (alias paling banyak lima hehehe). Pertama dengar nama Natsume Soseki juga tidak langsung melekat di kepala, yang tertinggal cuma "itu lho... nama pengarang yang ada musimnya..." (Natsu = musim panas)
Tekad saya bulat untuk coba baca buku karangan pria yang dianggap Charles Dickens-nya Jepang ini, waktu dalam suatu diskusi bersama teman-teman---waktu itu kami mendiskusikan Tottochan, editor pertama penerbit buku itu (Pantja Simpati) kurang-lebih bilang: "Selain karya Tetsuko Kuroyanagi, kami juga menerbitkan karya Natsume Soseki yang temanya juga pendidikan"
Hei... kayaknya gue pernah dengar nama itu deh, kata diri saya dalam hati. Ubek punya ubek lemari dan koleksi berdebu, saya mendapati ternyata saya punya satu buku karya Natsume Soseki yang judulnya Botchan!!! Buku yang saya punya berbentuk buku poket yang enak dibaca di kereta: ringan, kertas cokelat, terjemahan Alan Turney---yang menurut saya terjemahannya oke juga.
Saya ambil pembatas buku yang tergeletak di halaman 20-an (jadi maluuu, berarti pernah coba baca tapi trus kelupaan ;-p), lalu memulai buku itu dari awal. Once I started, I hardly can put it down :-))
Kalau Tottochan menceritakan wajah pendidikan dari mata seorang anak yang dianggap tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan (yang akhirnya dianggap "bandel"), maka Botchan dikisahkan dari mata pria muda yang "kecebur" jadi guru matematika SMP di sebuah desa nelayan kecil di Shikoku, Jepang.
Botchan tidak seperti karakter-karakter lain yang diceritakan punya "misi" jelas dalam hidupnya. Kalau boleh beranalisis, sepertinya dia lebih kepada tipe orang yang "go where the flow takes me". Ketika lulus kuliah di Tokyo---setelah orangtuanya meninggal, Botchan mendapat tawaran menjadi guru. Di cerita ada pernyataan polos Botchan untuk menggambarkan responsnya waktu mendapat tawaran ini: To tell the truth, although I had studied for three years, I had no wish to become a teacher, nor had I any idea of going to the country. But since I had no idea of becoming anything other than a teacher, I accepted the offer on the spot. Once again that impetuosity with which I was cursed.
Kalimat di atas dan beberapa pernyataan lain, terus terang membuat saya merasa agak tersentil, karena sebagai seseorang yang besar dan menuntut ilmu di kota besar, kok rasanya ogah pergi ke desa, hey let alone to be a TEACHER!!! (hari giniiii, gitu lhooo... hehehehe). Kok pas banget ya? hehehe Banyak hal lain yang bisa saya relate selain latar belakang terceburnya Botchan menjadi guru, antara lain:
- segala ujian dan cobaan dari murid-murid desanya yang sering Botchan sebut "norak" tapi sok keren, karena nggak mau kalah sama "orang Tokyo"
- pertemuannya dengan guru-guru lama di sekolah itu yang sedikit-banyak mencerminkan karakter manusia yang sering kali menggelikan (Dia menyebut si kepala sekolah "Badger" karena kemiripan fisik dengan hewan itu, saya bayangkan mungkin yang dimaksud "Tanuki", sifatnya sombong, sok idealis, dan sok tegas; Guru matematika ada yang dia sebut "Porcupine" karena kulitnya kelewat putih dengan bintik-bintik merah muda menjijikkan dan sikapnya yang tidak sopan dan menyebalkan; lalu ada "musuh utamanya" Redshirt: wakil kepla sekolah yang dia panggil begitu, karena pria ini selalu mengenakan (tentu saja) a red flanel shirt walaupun cuaca panas (mungkin biar kesannya terpelajar dan elite ;-p).
Soseki rasanya mengkritik habis-habisan sosok scholar sombong dari kebencian Botchan terhadap si Redshirt. Diceritakan karena lulusan universitas (Bachelor of Arts), Redshirt kerap kali bersikap sombong, merasa superior, menggunakan tutur kata lemah lembut--sehingga nggak jelas dia pria atau wanita, menyabet tunangan orang lain yang "inferior" baik dalam hal jabatan dan karakter (bahkan diceritakan si guru kecil ini diusir ke distrik lain, supaya Redshirt bisa menikah dengan tunangannya), bolak-balik mengutip puisi Rusia... dst
Begitu Redshirt mulai ngutip-ngutip nama "ajaib", dalam hati Botchan komentar "emangnya gue peduli sama orang Rusia?" hehehehe itu versi saya, versi benernya: Dropping foreigners' names one after another in a conversation was a bad habbit of Redshirt's. It made it sound as though he was speaking in Italics. Everyone has his own speciality, and being a teacher of mathematics, I hadn't the faintest idea what the difference between Gorki and Turkey ;-p
Well, I can go on and on, quoting the parts I love from this book, tapi kayaknya nggak bakal adil karena temen-temen pastinya mau baca sendiri, kan? Tapi izinkan saya mengutip satu bagian lagi untuk menutup review ini:
I just couldn't behave in the way the headmaster was telling me to. He was asking somebody as wild as I was to set an example for the students, and telling me that I had to be looked up to by the whole school, and that I would never be an educator unless, as an individual, I exerted a good moral influence on the pupils outside school too. This was unreasonable. As if anybody with all those virtues would come all the way out into the country to teach for fourty yen a month!
Happy reading... :-))
Posted at 01:27 pm by snoopdin
Permalink
Friday, December 24, 2004
Buku-Buku yang direkomendasikan untuk Tahun 2004
Teman-teman, menjelang akhir tahun kami iseng-iseng mau menampilkan sejumlah buku yang kami rasa patut direkomendasikan sebagai bacaan menarik di tahun 2004 ini.
Oya, karena para author di sini penggemar buku fiksi, jadi maaf aja ya kalau isinya kebanyakan buku-buku fiksi. ^-^
Kategori Buku Bahasa Asing/Terjemahan
Da Vinci Code (Kode Da Vinci) - Dan Brown (Novel yang paling banyak dibicarakan tahun ini! Nih novel gila banget deh... seru dan plotnya bikin kita nggak bisa berhenti baca)
Life of Pi (Kisah Pi) - Yann Martel (Novel yang membuat kita jadi memiliki pandangan baru tentang hidup)
Looking for Alibrandi (Mencari Jati Diri) - Melina Marchetta (Novel remaja yang oke banget, yang patut dibaca oleh semua remaja)
Momo - Michael Ende (Kisah Fantasi tentang gadis cilik bernama Momo yang menakjubkan)
Va dove Ti Porta Il Cuore (Pergilah Ke Mana Hati Membawamu) - Susanna Tamaro (Pernah dimuat sebagai Cerita Bersambung di KOMPAS)
Five People You Meet in Heaven - Mitch Albom (Amat menyentuh! Melihat surga dari kacamata berbeda)
Eragon - Christopher Paolini (Harry Potter mesti hati-hati sama yg satu ini!)
Curious Insident of the Dog in the Night Time (Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran) - Mark Haddon (Kisah anak remaja penderita sindrom Asperger yang penasaran dan mengusut kasus tewasnya anjing tetangganya)
1,000 Places to See Before You Die: A Traveler's Life List - Patricia Schultz. (Dari judulnya aja udah ketauan dong... buat petualang nih... biar tau tempat-tempat yang patut dikunjungi)
Spiderwick Chronicle (Sederhana dan gak kompleks tapi punya segala unsur yang membuat buku seru dibaca)
Kategori Buku Dalam Negeri
Cantik Itu Luka - Eka Kurniawan (Buat gue, ini karya sastra terbaik setelah Saman)
Jangan Beri Aku Narkoba - Alberthiene Endah (Kisah tentang remaja pecandu narkoba yang juga lesbian)
Lelaki Terindah - Andrei Aksana (Kisah cinta antara dua lelaki yang terhalang norma)
Kuda Terbang Maria Pinto - Linda Christanty (Pemenang Khatulistiwa Award thn 2004, mau bilang apa lagi?)
Tabula Rasa - Ratih Kumala (Pemenang ketiga lomba novel Dewan Kesenian Jakarta 2003, ceritanya santai, tapi sayang editingnya rada berantakan)
Indiana Chronicle: Blues - Clara Ng (ChickLit banget, segar dan menghibur)
DeaLova - Dyan Nuranindya (Gue rasa nih novel patut direkomendasikan krn katanya udah dicetak hingga 30.000 eks! Angka yang fantastis, terutama untuk pengarang remaja)
Bukuku Kakiku (Kumpulan tulisan yang ditulis oleh orang-orang pecinta buku)
Let's go, Fatimah - Sri Izzati (Kalau anak 8 tahun dapat MURI sebagai penulis termuda)
Senopati Pamungkas - Arswendo Atmowiloto (Akhirnya, setelah sekian lama buku dahsyat ini dicetak ulang)
Bertanya atau Mati - Isman H. Suryaman (Buat yang suka buku-buku humor, jayus, dan rada norak...)
Karena penilaiannya subjektif banget (hanya menurut kami), hehehe, mungkin bakal ada yang keberatan atau nggak setuju. Tapi nggak apa-apa, kan?
Selamat Membaca!
Posted at 09:34 am by coffeeaddict
Permalink
Thursday, December 09, 2004
The Bartimaeus Trilogy: The Amulet of Samarkand - Jonathan Stroud
Ceritanya seru, ttg Nathaniel (11 th), anak cerdas yg magang utk belajar sihir pada Arthur Underwood, magician kelas dua di London. Nathaniel ini digambarin melas banget, orangtuanya kayaknya menyerahkan dia begitu saja ke Ministry of Magic demi uang. Arthur juga kayaknya nggak sayang-sayang banget sama dia, yg sayang cuma istrinya.
Nah, suatu hari mereka kedatangan tamu, Simon Lovelace, magician jagoan. Simon ini begitu mempermalukan Nathaniel di depan umum sampai Nathaniel bertekad membalasnya. Dia belajar aneka spells yang mestinya belum boleh dipelajarinya. Salah satunya spell untuk memanggil jin bernama Bartimaeus, jin yang berumur lima ribu tahun.
Tapi ternyata Bartimaeus susah dikontrol. Maklumlah, pengalamannya sudah segudang, jadi dia menganggap remeh Nathaniel. Ada saja akalnya untuk melepaskan diri dari ikatan spell Nathaniel. Dan waktu Nathaniel menyuruhnya mencuri Amulet of Samarkand yg diyakininya merupakan sumber kekuatan Simon, Bartimaeus seperti dapat peluang yang selama ini dinanti-nantinya.
Buku ini asyik banget, aku berkali-kali ngakak bacanya. Tokoh favoritku si Bartimaeus. Dia ini jin funky yang kadang sok tahu banget. Kira-kira kayak Foaly, centaurus jago tekno di Artemis Fowl.
Posted at 02:04 pm by caramelll
Permalink
Monday, December 06, 2004
Harry and the Wrinklies - Alan Temperley

Harry and the Wrinklies ttg Harry, anak orang kaya berumur 11 th yg diasuh nanny Lavinia McScrew karena ortunya keliling dunia terus. Karena nanny ini kejam banget, Harry menjuluki dia Gestapo Lil. Si Gestapo ini pinter lho, di depan ortu Harry dia selalu pasang sikap baik, tapi diam-diam dia ngancem Harry supaya jgn cerita ke ortunya.
Suatu hari, karena ortunya meninggal dalam kecelakaan, Harry dipindah ke rumah neneknya di pedesaan. Kedua nenek ini funky abis, mereka maunya dipanggil aunt, bukan nenek: Florrie dan Bridget.
Tadinya Harry sebel harus tinggal sama nenek2, tapi ternyata kedua nenek itu asyik banget dan lingkungan desanya juga seru. Aunt Florrie misalnya, biarpun sudah tua tapi hobinya ngebut naik motor. Di Lagg Hall (nama rumah mereka) juga tinggal teman-teman neneknya yg gak kalah seru. Ada yg jago merekayasa mobil, jago gulat, jado bahan peledak, sulap, dll....
Belakangan Harry gak sengaja tahu bahwa semua orang tua itu ternyata kriminal. Mereka beberapa kali merampok bank, tapi uang hasil rampokannya selalu disumbangkan. Kira-kira kayak Robin Hood kali ye. Kekacauan timbul ketika ternyata Gestapo Lil tunangan Kolonel "Beastly" Priestley, tetangga Lagg Hall, dan dia memutuskan tinggal di pedesaan itu juga. Beastly Priestley ini hakim yg korup dan sering jadi penadah barang-barang curian. Dia sebal bgt sama para penghuni Lagg Hall dan berniat menyingkirkan mereka krn mereka tau "belangnya".
Menurutku sih buku ini asyik buat anak-anak umur 11 th ke atas. Tokoh-tokohnya sih rada kontroversial, karena kriminal itu tadi, makanya kurasa cocoknya buat anak-anak yg sudah agak besar, biar bisa mikir. Aku pernah baca Alan Temperley ini disamain dg Roald Dahl. Tau dong, Dahl juga kan kadang tulisannya bikin serem saking sadisnya. Terus aku juga suka deskripsinya ttg alam pedesaan Inggris, termasuk aneka makanannya. Ini menurutku gak kalah sama deskripsi makanan di buku-buku Enid Blyton.
Buku ini ada lanjutannya: Harry and the Treasure of Eddie Carver. Sama serunya!
Posted at 03:51 pm by caramelll
Permalink
|