Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat....
Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
|
 |
Monday, December 06, 2004
Harry and the Wrinklies - Alan Temperley

Harry and the Wrinklies ttg Harry, anak orang kaya berumur 11 th yg diasuh nanny Lavinia McScrew karena ortunya keliling dunia terus. Karena nanny ini kejam banget, Harry menjuluki dia Gestapo Lil. Si Gestapo ini pinter lho, di depan ortu Harry dia selalu pasang sikap baik, tapi diam-diam dia ngancem Harry supaya jgn cerita ke ortunya.
Suatu hari, karena ortunya meninggal dalam kecelakaan, Harry dipindah ke rumah neneknya di pedesaan. Kedua nenek ini funky abis, mereka maunya dipanggil aunt, bukan nenek: Florrie dan Bridget.
Tadinya Harry sebel harus tinggal sama nenek2, tapi ternyata kedua nenek itu asyik banget dan lingkungan desanya juga seru. Aunt Florrie misalnya, biarpun sudah tua tapi hobinya ngebut naik motor. Di Lagg Hall (nama rumah mereka) juga tinggal teman-teman neneknya yg gak kalah seru. Ada yg jago merekayasa mobil, jago gulat, jado bahan peledak, sulap, dll....
Belakangan Harry gak sengaja tahu bahwa semua orang tua itu ternyata kriminal. Mereka beberapa kali merampok bank, tapi uang hasil rampokannya selalu disumbangkan. Kira-kira kayak Robin Hood kali ye. Kekacauan timbul ketika ternyata Gestapo Lil tunangan Kolonel "Beastly" Priestley, tetangga Lagg Hall, dan dia memutuskan tinggal di pedesaan itu juga. Beastly Priestley ini hakim yg korup dan sering jadi penadah barang-barang curian. Dia sebal bgt sama para penghuni Lagg Hall dan berniat menyingkirkan mereka krn mereka tau "belangnya".
Menurutku sih buku ini asyik buat anak-anak umur 11 th ke atas. Tokoh-tokohnya sih rada kontroversial, karena kriminal itu tadi, makanya kurasa cocoknya buat anak-anak yg sudah agak besar, biar bisa mikir. Aku pernah baca Alan Temperley ini disamain dg Roald Dahl. Tau dong, Dahl juga kan kadang tulisannya bikin serem saking sadisnya. Terus aku juga suka deskripsinya ttg alam pedesaan Inggris, termasuk aneka makanannya. Ini menurutku gak kalah sama deskripsi makanan di buku-buku Enid Blyton.
Buku ini ada lanjutannya: Harry and the Treasure of Eddie Carver. Sama serunya!
Posted at 03:51 pm by caramelll
Permalink
Enslaved by Ducks by Bob Tarte
Enslaved by Ducks

Satu lagi buku tentang binatang. Buat yg suka buku-buku James Herriot, pasti deh menikmati buku ini. Ceritanya tentang pengalaman Bob Tarte, si penulis buku ini. Mulanya dia orang kota, tp setelah married pindah ke pedesaan. Dia membayangkan di desa bisa hidup dan bekerja dengan tenang. Tapi istrinya sukaaaa banget sama binatang, dan bersikeras mereka harus punya binatang peliharaan. Kelinci aja. Satuuu aja. Kan kelinci imut dan kecil, jadi gak bakal mengganggu deh. Maka pergilah mereka mencari kelinci. Berhubung semua kelinci keliatan imut dan kecil, mereka mencari yg paling imut dari yg imut. Mereka gak tau bahwa different breed, different personality. Misalnya kelinci kuping kupluk, itu lebih jinak dan penyayang, mau dibelai-belai. Ada juga kelinci yg gampang bete dan gak suka dipegang-pegang. Nah, mereka justru membeli kelinci jenis ini, krn tertarik mukanya yg lucu dan bulu hitam-putihnya yg apik. Padahal setelah sampai di rumah, kelinci ini bikin repot setengah mati. Suka gigitin kabel dan sering kabur.
Tapi pasangan suami-istri ini gak kapok juga. Setelah kelinci, menyusul burung kakak tua, bebek-bebek, angsa, ayam-ayam kalkun yg ditinggal orang di jalan, dan lain-lainnya, sebab mereka kasihan melihat binatang-binatang yg ditelantarkan. Jadilah Bob gak henti-hentinya membuat kandang, bersihin kandang, beli makanan binatang, nyuapin piaraan-piaraan yg suka manja itu, dsb. Meski mengomel, ternyata lama-lama dia senang juga mengurus mereka, apalagi masing-masing hewan itu punya kepribadian dan sifat unik yg menarik.
Buku ini penuturannya lucu, masing-masing bab menceritakan satu jenis binatang. Asyik buat bacaan ringan hari Minggu.
Posted at 09:52 am by pepsi-cola
Permalink
Monday, October 11, 2004
LIFE of PI by Yann Martel
Ini buku kecintaan saya. Dan ingatan akan buku ini selalu dibarengi perasaan kagum.. Sangat bagus, sangat bagus, dan sekali lagi sangat bagus. Lima bintang. Masterpiece. Whatever… Penulisnya menghabiskan waktu 4 tahun untuk riset---berkunjung ke kebun-kebun binatang, keluar-masuk tempat-tempat ibadah, dan riset dari buku-buku. Hasilnya adalah karya yg memenangkan Man Booker Prize 2002 ini.
Ceritanya tentang Pi Patel, anak lelaki India yg ayahnya mempunyai kebun binatang di Pondicherry. Dia dan keluarganya hendak pindah dr India ke Canada, bersama binatang-binatang mereka, naik kapal barang bernama Tsimtsum. Di tengah perjalanan, kapal itu tenggelam. Yg selamat hanya Pi, seekor zebra patah kaki, seekor orang utan, seekor hyena tutul, dan seekor harimau loreng. Mereka terapung-apung dlm sekoci di Samudra Pasifik. Maka hukum survival of the fittest pun dimulailah.
Pada sinopsis buku ini tertulis antara lain, “… a novel of such rare and wondrous storytelling that it may make you believe in God.” Cerita yg barangkali jadi membuat Anda percaya pada Tuhan? Hmm… setelah membaca sampai habis, saya baru memahami maksudnya.
Buku ini bukan sekadar petualangan di laut. Banyak… banyak sekali yg dibahas di sini. Tentang dunia binatang, pro dan kontra terhadap bonbin, manusia sebagai binatang, budaya, agama-agama besar di dunia, dan… Tuhan. Kedengarannya berat ya tema-temanya? Tapi berhubung dituturkan lewat sudut pandang anak remaja yg sangat cerdas, polos, berpikiran terbuka, optimis, dan humoris, jadi semuanya ringan-ringan saja. Budaya India sangat kental di sini. Ritual-ritualnya, dewa-dewanya, makanannya, dipaparkan secara singkat. Sebagai anak India, yg secara tradisional beragama Hindu, Pi melihat dunia sekelilingnya melalui kacamata Hindu, dan bertolak dr sanalah dia belajar mengenal 2 agama lain yg akhirnya sama-sama begitu dekat di hatinya: Kristen dan Islam, hingga kemudian dia menganut ketiga-tiganya. Dia percaya semua agama baik adanya, sebab tujuan utamanya adalah mengasihi Tuhan. Keyakinannya yg kuat pada Tuhan inilah yg sangat membantunya saat menghadapi bulan-bulan penuh perjuangan di laut lepas, selain tentu saja kegigihannya dan pengetahuannya ttg binatang.
Beberapa faktor yg membuat buku ini sangat mengesankan buat saya antara lain nadanya yg optimis, sindiran-sindirannya yg humoris namun sangat mengena, ajakan utk menertawakan diri sendiri, dan macam-macam pengetahuan yg terkandung di dalamnya (misalnya, saya baru tahu bhw mata dan tulang belakang ikan mengandung cairan segar yg bisa diminum, dan hampir sepenuhnya bebas dari garam). Buku ini juga mendorong saya utk meng-Google buanyaaaak hal buat mencari informasi lebih lanjut (thank God for Google). Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang binatang-binatangnya, tempat-tempat yg disebutkan di situ, jenis-jenis makanan, dsb. dsb. Saya bahkan sampai pergi juga ke bonbin dan Sea World utk melihat-lihat J.
Banyak hal yg kedengarannya mustahil dan sangat tidak biasa dlm buku ini, meski utk ukuran cerita fiksi. Supaya bisa menikmatinya, mesti buka pikiran lebar-lebar dan nyantai aja bacanya…
Posted at 11:09 am by pepsi-cola
Permalink
Human Character in the Wayang: Javanese Shadow Play, by Ir. Sri Mulyono

Ini buku temuan terbaru gw, hasil ngorek-ngorek dan liat-liat di stand berdebu Pasar Buku Langka di Ikapi baru-baru ini. Terbitan thn 1981, bagian dari proyek Pelita Departemen P & K. Gw menampilkannya di sini saking senangnya berhasil menemukan buku ini. Udah lama sekali gw nyari buku tentang wayang dlm format seperti ini. Coba dari dulu gw tau. Buku ini penting buat gw. Soalnya, gw gak hobi nonton wayang (semua tokok wayang kelihatannya sama aja di mata gw, kecuali tokoh-tokoh Punakawan), tapi gw suka banget baca cerita Ramayana dan Mahabharata. Sampai sekarang pun masih terbayang-bayang serunya kedua cerita itu. Nah, kalo lagi baca materi-materi lain yang menyebutkan sesuatu dari Ramayana/Mahabharata, atau mendengar sesuatu yang ada hubungannya dng kedua kisah kolosal itu, gw suka berusaha mengingat-ingat lebih detail, "Siapa ya tokoh ini? Spesifikasinya apa? Ciri khasnya apa? Kapan dia muncul? Kalo langsung ingat sih gw bisa manggut-manggut senang, tapi kalo gak ingat, kan jadi penasaran, serasa ada yg mengganjal dan jadi kepikiran berhari-hari. Naaah, pada saat-saat seperti itulah gw berandai-andai, "Yaah, coba ada kamus wayang yah? Yg sederhana, praktis, tapi cukup padat. Gak perlu sampai menguraikan wayang secara panjang lebar berikut filosofinya, tapi juga bukan sekadar keterangan singkat yg kering." Biarpun zaman sekarang hampir segala sesuatu bisa di-Google, kadang gw gak pingin meng-Google semua hal. Kadang gw pingin informasi dari buku yg bisa gw bawa ke mana-mana dan gw buka setiap saat.
Naah, buku ini pas banget dng kebutuhan gw. Buat yg berminat tau sedikit-sedikit atau butuh panduan tentang tokoh-tokoh pewayangan, buku ini praktis banget. Ada ulasan singkat tentang filosofi pewayangan dan nilai seninya, lalu ada bagian tentang tokoh-tokoh dlm Ramayana dan Mahabharata. Masing-masing tokoh dijabarkan riwayat singkatnya, kaitannya dng tokoh-tokoh lain, berikut ulasan ttg perilaku tokoh tsb dan pelajaran yg terkandung di dalamnya.
Posted at 09:45 am by pepsi-cola
Permalink
Tuesday, October 05, 2004
Ini novel remaja yang agak berat, tapi bagusssss banget! Sedih abiss! Kisahnya tentang remaja transgender, itu lho remaja yang merasa gendernya gak pas dengan fisiknya. Dalam novel ini cewek yang berada dalam tubuh cowok, namanya Liam---atau tepatnya Luna.
Novel ini dikisahkan dari sudut pandang adik Liam/Luna, Regan. Liam baru bisa menjadi Luna di malam hari (karena itu dia memilih nama Luna, bulan) saat ayah-ibunya sudah tidur. Dia suka mengenakan make-up, nyobain baju, dll, di tengah malam-subuh. Hidupnya sedih banget, soalnya biarpun dia cerdas (nilainya A semua), punya kerja sampingan merakit PC untuk teman-temannya, wajahnya lumayan ganteng sampai ditaksir cewek-cewek, tapi dia sama sekali gak merasa fit in dalam tubuhnya yang cowok. Satu-satunya yang mengakui keberadaan Luna hanya Regan. Ayah mereka bahkan selalu berusaha melibatkan Liam dalam kegiatan-kegiatan yang macho, misalnya bisbol.
Di lain pihak, hidup Regan juga kacau-balau soalnya dia sibuk melindungi identitas kakaknya. Bukan hanya gak bisa tidur malem, hidup sosial Regan di sekolah juga berantakan soalnya dia takut dipandang anak aneh karena punya kakak “banci”. Dia juga repot menutup-nutupi rahasia Liam dari orangtua mereka. Sementara karena ketakutannya sendiri yang berlebihan itu dia jadi semakin terkucil, gak punya teman, nilai di sekolah turun, dll.
Novel ini mengajak kita melihat “isi kepala” seorang transgender. Betapa dia menderita. Betapa dia hanya ingin diterima masyarakat. Gak bisa dipungkiri, hal pertama yang kita lakukan saat melihat “banci” adalah tersenyum geli, kan? Novel ini ingin mengatakan, “Hei, mereka kan manusia juga!” Pesan penting yang suka dilupakan novel-novel ringan menghibur belakangan ini.
Beli: hmmm... masih pinjem juga... hehehe... tapi kalau tertarik bisa buka www.julieannepeters.com.
Posted at 01:50 pm by cjdw
Permalink
Wah, wah, ini dia novel yang paling bikin heboh belakangan ini! Tips awal sebelum mulai membaca: tanggalkan semua baju keagamaan kita, terutama buat yang Nasrani. Nikmati aja sebagai hiburan dan tambahan informasi.
Sudah? Nah, pertama-tama novel ini novel yang sangat kaya dan seru---paling nggak di bagian-bagian awal (mulai pasang tameng melindungi diri dari para fans... hehehe...). Diawali dengan meninggalnya Jaques Sauniere, kurator Louvre, museum terbesar di dunia. Masalahnya Sauniere tidak meninggal dengan wajar. Jenazahnya ditemukan dalam museum itu dalam posisi Vetruvian Man, itu lho... lukisan DaVinci tentang cowok yang mengembangkan tangan dan kakinya. Katanya itu gambar manusia yang paling proporsional yang pernah ada. Selain itu dia juga meninggalkan berbagai pesan dan kode.
Robert Langdon, pakar simbol, dipanggil untuk memecahkan kode-kode itu. Tapi ternyata tidak hanya diminta tolong membantu dengan keahliannya, dia juga dijadikan tersangka. Tak dinyana, yang menyelamatkannya cucu Sauniere sendiri, Sophie Neveu. Sophie yang bekerja sebagai kriptolog kepolisian Prancis percaya Langdon tak bersalah, karena pesan-pesan yang ditinggalkan sang kakek justru harus dipecahkan dengan bantuan Langdon.
Pesan-pesan yang semua berkaitan dengan sang mahacerdas, DaVinci itu---membuat saya bengong terkagum-kagum pada si Leo (juga pada Dan Brown!)---membuat Langdon dan Neveu berkeliling Louvre, lalu Paris, Versailles (daerahnya, bukan istananya), dan akhirnya London serta Inggris. Ternyata pesan-pesan itu membuka rahasia keberadaan perkumpulan rahasia Priory of Sion yang tugas utamanya adalah melindungi Holy Grail dan membawanya kembali ke tempatnya harus bertakhta. Orang Katolik konvensional---dan rasanya orang Kristen pada umumnya---menganggap Holy Grail ini adalah piala yang digunakan Yesus pada perjamuan terakhir-Nya sebelum disalib, ternyata o ternyata... Holy Grail tidak sekadar piala. Holy Grail---San Greal atau Sang Real, Royal Blood, darah bangsawan. Darah siapa? Dengan penjelasan ilmiah dan historikal yang sangat menarik, Dan Brown mempertanyakan kepercayaan iman yang sudah berjalan dua ribu tahun. Seru banget deh!
Bagian yang menurut saya kurang asyik adalah pola teka-tekinya. Baca buku ini serasa main video game, ada tantangan di level 1, lolos, tantangan di level 2, lolos, maju ke level 3, dst. Di pertengahan buku, saya mulai kehilangan “serunya” karena sudah menebak, “aaa... abis ini paling dia berhasil lolos lagi!”. Selain itu beberapa kali saya merasa “lolosnya” terlalu gampang, jadi serasa lolos dari tantangan di Spiderwick aja! (Full tameng, siap menerima serangan! Hehehe...)
Karena pada minta diberitahu beli di mana/harganya, buku ini saya beli di Times Pondok Indah dengan harga (kalo gak salah) Rp 68K---waktu itu lagi diskon 10%. Best bargain banget deh! Soalnya di Kino kalo gak salah harganya 120-an gitu. O iya, saat ini DaVinci Code maupun buku2 Dan Brown lainnya lagi abis di mana-mana. Jadi kalo bisa dapet, selamat, Anda beruntung!
Posted at 01:49 pm by cjdw
Permalink
|