Photobucket - Video and Image Hosting




Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat.... Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



Authors:


coffeeaddict
� caramelll
� pepsi-cola
� shoeGirl
� tahutempe
snoopdin
cjdw
� mataempat







Untuk pencarian buku lain, silakan gunakan:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Kupunyabuku



Anda Pengunjung ke:





Another blog posts
Postings in Chihiro's Box (snoopdin):
Chihiro's Box

Posting in kupunyafilm:
http://kupunyafilm.blogdrive.com




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Saturday, March 10, 2007
Cerita dari Gedung Arca: Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta~Wahyono Martowikrido

Buku kecil ini menarik banget buat gue. Pertama-tama karena sulit sekali mendapatkan buku yang bercerita tentang museum, bangunan tua, ataupun sejarah di Indonesia. Kalaupun ada, textbook banget. Mmm... kita bukan mau kuliah lagi, kan? Dus, buku ini pas banget: cerita sejarah dengan gaya artikel yang santai. Memang isinya adalah artikel-artikel si pengarang yang pernah dimuat dalam Intisari, tahun 1964-1975. Tapi meskipun artikel termudanya usianya sama dengan gue, bahasanya tetap enak dibaca dan dinikmati. Rasanya selain Pak Wahyono pintar bertutur, peran editornya (JJ Rizal), cukup besar. Sayang sekali, kumpulan artikel berhenti di tahun 1975, ke mana sisa artikel 32 tahun setelahnya? Ayo dong Bapak, bikin lagii...!!!

            Orang Jakarta selalu melewati Museum Nasional, atau juga dikenal sebagai Museum Gajah dalam perjalanan dari Selatan ke Utara, mungkin dari Blok M ke Glodok atau ke Mangga Dua. Sekarang di seberangnya ada halte busway Museum. Lebih ke seberangnya lagi ada Monas. Dan di sebelah sono dikit ada Istana Negara. Anyway, Museum Nasional ini letaknya benar-benar di pusat Jakarta. Tapi seberapa banyak yang pernah masuk ke sana dengan tidak terpaksa? Artinya bukan karena ikut rombongan sekolah, atau karena tugas mengarang, tugas menggambar, atau tugas-tugas lain sejenisnya? Sombong... sombong... aku pernah! Aku pernah! Hehehe... Sama beberapa pacar (dua pacar gue pernah gue ajak ke sana), sama teman, sama adik dan orangtua. Dan dalam kunjungan-kunjungan itu, gue seolah merambah peta buta. Gue cuma bisa memerhatikan koleksinya yang begitu banyak rupa dan indah-indah, tanpa tahu cerita di baliknya. Mungkin Museum Gajah harus membuat audio-guide yang disewakan seperti di museum-museum Eropa. Atau, memperbanyak guide yang tidak menyeramkan. Maklum, kesan kita begitu masuk instansi pemerintah kan Bakal ada pungli nih! Bakal ada pungli nih! Padahal guide yang bagus kan membuat kunjungan ke museum sangat menyenangkan, seperti kunjungan ke Museum Bali di Denpasar dulu itu. (Mmm... kalo gue gak dikira orang Jepang juga mungkin kami gak dideketin.)

            Anyway, kok ngelantur. Yah, tapi buku kecil ini mungkin bisa memberi warna lebih manusia pada arca-arca batu dan gedung yang menyimpannya. Dari dua belas artikel yang termuat di dalamnya, gue susah memilih mana yang gue paling suka. Jelas artikel tentang manusia-manusia di balik museum itu yang paling menyentuh. Misalnya kisah Ibu Mastini (Perpustakaan Museum Pusat yang Tertua di Asia Tenggara) membuat gue drooling, soalnya ibu ini jadi kepala perpustakaan yang koleksinya begitu kayasecara gue suka buku gitu loh. Lalu kisah tentang Ghozali, Naiman, dan Dulloh juga membuat gue tersentuh. Pak Ghozali yang jadi kurator koleksi numismatik (uang) museum kayaknya pinter banget. Pak Naiman yang penjaga museum rasanya tulus banget. Sementara Pak Dulloh yang dijuluki Mur Jangkung kok Betawi banget, dan lucu.

            Cerita tentang koleksi museum yang gak bernyawa pun menarik. Misalnya cara membuat patung perunggu. Tekniknya ternyata lumayan sederhana dan bisa kita sontek: bikin model dari tanah liat, lapisi dengan lilin, setelah lilin keras, ukir sampai ke bentuk patung yang kita inginkan, lalu lapisi lagi dengan tanah liat. Jangan lupa bikin lubang untuk menuang perunggu dan mengeluarkan lilin. Setelah cetakan ini jadi, tuang perunggu ke dalamnya. Perunggu yang superpanas akan mencairkan lilin, lilin mengalir keluar, perunggu mengisi rongga patung lilin. Mmm... maksud gue sih bisa kita tiru kalau ada bengkel dan tunggu pemanas besi di rumah ya... jangan dicoba dengan kompor gas biasa.

            Ada juga cerita tentang topeng nenek moyang, patung-patung tradisional, keramik Swatow. Semuanya ringan dan menarik.

            Anyway, ngelantur lagi. Ya, menurut gue buku kecil begini sangat menarik dan perlu buat memberi sudut pandang lain bagi museum yang kesannya kumuh (ngngng... mungkin Museum Gajah gak kumuh ya...), membosankan, menyeramkan. Mau dong bikin buku kecil kayak gini buat museum-museum lain. Museja, Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum Wayang, dll, dsb. Soalnya tiap benda di museum pasti punya cerita, kalo benda itu just another benda, ngapain dimasukin museum?

*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com


Posted at 10:41 am by cjdw
Comments (1)  

Thursday, March 08, 2007
Neverwhere~Neil Gaiman

tubuh siapakah melukis gelap

melubangi cahaya dalam terowongan,

menuju petabuta.

para pejalan menanti sejutamil jarak mengkerut.

dalam perjalanan matahari membeku.

para pemahat merias wajah kota yang terkubur.

di bawah tanah terkutut.

tubuh siapakah, perempuan yang menangis,

ibu yang kesepian, mengukir abad lelaki,

di loronglorong peradaban penuh dendam.

(Kota Bawah Tanah~Dorothea Rosa Herliany)

Kota_antah_berantah Begitu membaca sajak di atas, gue langsung berkomentar, "Ya ampyiuuun... Kok bisa?" Ya, soalnya sajak itu benar-benar menggambarkan isi buku Neverwhere~Neil Gaiman yang udah gue baca berulang-ulang-ulang, sekitar 5 kali deh.

Biarpun udah bolak-balik baca, gue gak pernah kehilangan kekaguman pada novel ini. Saat pertama kali membaca novel ini, gue menyembah-nyembah Neil Gaiman. Gilaaaa... imajinasinya dahsyaaaat!!! Dia menabrak semua pembatas, menciptakan dunia sendiri, menjadikan segalanya mungkin. Pada kali kedua dan selanjutnya, gue mengagumi logikanya. Segala hal aneh yang dia rangkai menjadi mungkin karena dia berhasil menempatkan logika yang kuat di balik keajaiban itu. Itulah indahnya kisah fantasi.

Alkisah Richard Mayhew yang superBIASAbangetsekali pindah ke London. Di sana dia bekerja di firma sekuritas top, tinggal di apartemen kecil, dan punya tunangan cantik yang ngeselin. Hidupnya biasa. Dirinya sangat biasa. Bahkan antikomitmen dan kurang pede. Kalau berkenalan dengan orang, dia selalu gak yakin, "Aku? Mau kenalan sama aku? Serius? Oh, ya? Oh, aku Richard. Richard Mayhew. Dick." Panjang dan gak tegas. Yah, dia cuma orang biasa.

Suatu hari, dalam perjalanan akan makan malam bersama bos tunangannya, Richard melihat seorang gadis gelandangan terkapar berdarah. Richard memutuskan menolong gadis itu. Salah besar! Ternyata tindakan penuh kasih itu berubah jadi bumerang yang menghancurkan hidupnya.

Richard menolong Door (nama gadis itu), membersihkan lukanya, dan menyembunyikannya dari Croup dan Vandemar, yang mengejarnya. Richard menghubungi Marquis de Carabas yang lalu membawa gadis itu pergi. Itu hari Sabtu.

Hari Senin, Richard mendapati dirinya tidak ada lagi. Dia tidak punya pekerjaan, tunangan, apartemen. Dia tidak diakui ada di dunianya. Jadi dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya: mencari Door dan Marquis de Carabas. Masuk ke dunia mereka. Masuk ke dunia ajaib yang tidak nyata: London Bawah.

Petualangannya di London Bawah dimulai dengan hampir mati serta diselamatkan seekor tikus, binatang tidak penting yang menjijikkan bagi kita, penghuni dunia atas. Richard lalu diantar mencari Door dan Marquis de Carabas ke Pasar Terapung oleh seorang rat-speaker, Anaesthesia. Dalam perjalanan singkat mereka, Richard mendapat pelajaran tentang empati. Richard yang tadinya "biasa", tergugah perasaannya mendengar kisah hidup Anaesthesia. Bahkan merasa sangat bersalah saat gadis itu hilang di Night's Bridge.

Di Pasar Terapung Richard berhasil menemukan Door dan Marquis de Carabas. Kedua orang itu sedang mencari pengawal, karena nyawa Door terancam setelah Croup dan Vandemar membantai keluarganya. Pengawal itu Hunter. Akhirnya Richard dan ketiga orang itu berkelana keliling Dunia Bawah, utamanya sih untuk mencari siapa pembunuh keluarga Door, tapi masing-masing anggota fellowship punya tujuan sendiri. Richard ingin bisa mendapatkan hidupnya yang lama. Hunter ingin membunuh Monster Dunia Bawah London. Marquis de Carabas, well, dia sih oportunis yang ingin mendapat keuntungan dari apa pun.

Perjalanan mereka diawali dengan mencari Earl's Court. Kenapa? Karena sang earl yang tahu cara mencapai Malaikat Islington. Kenapa Malaikat Islington? Karena almarhum ayah Door mengatakan gadis itu harus mencari perlindungan pada si malaikat. Kunci yang diberikan sang earl: mereka harus mencari Angelus. Maka mereka mencari Angelus dalam British Museum di London Atas. Via Angelus, mereka menemui Malaikat Islington. Si malaikat minta mereka mencari sebentuk kunci yang disimpan para Black Friars, baru akan memberitahu siapa yang membunuh keluarga Door. Maka itulah yang mereka lakukan.

Di pintu biara Black Friars, Hunter menghadapi tantangan pertama: perkelahian. Door menghadapi yang kedua, teka-teki. Richard tersisa untuk menghadapi tantangan utama: Ujian Kunci. Tantangan ini tidak menggunakan fisik, atau akal, tapi emosional dan ketahanan. Richard dibujuk setengah mati untuk bunuh diri, dan hampir terbujuk. Tapi dia berhasil melewati ujian ini. Mereka segera membawa kunci tersebut pada Malaikat Islington, hanya untuk mendapati kejutan terakhir.

Novel ini memesona gue bukan hanya dalam hal fantasi dan keliaran imajinasi pengarangnya. Bukan hanya karena logika ceritanya, yang membuat tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi juga karena sentuhan rasa, empati, dan kasihnya. Juga karena pengetahuan dan sinismenya (Marquis de Carabas yang licik, ternyata nama tokoh pemuda desa yang lugu dalam kisah Kucing Bersepatu Lars; Peta jaringan kereta bawah tanah London yang disertakan juga bisa membuat kita membayangkan perjalanan Richard dkk). Dan karena ungkapan-ungkapan yang diciptakan sendiri oleh Gaiman, misalnya pada bab 1, dia menggunakan burung kenari sebagai analogi sifat licik. Wow. Siapa yang terpikir? Tapi omong-omong si Tweety Bird yang imut itu memang bandel dan licik, kan?

*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*


Posted at 01:03 pm by cjdw
Comments (2)  

Wednesday, February 28, 2007
The Lady and the Unicorn by Tracy Chevalier


F
ound my self blushed quite a lot when reading this one. Unlike her other books (so far I’ve read: Girl with A Pearl Earring and The Virgin Blue) that usually handed us love scenes with more subtle and delicate ways, I found The Lady and the Unicorn explored “new” territory with more details. Not that I mind ;-p

Because come to think of it, in my opinion, the book voiced a lot about the human senses: sight, touch, taste, smell and sound---and not just because the Lady and the Unicorn tapestries themselves were named after these five senses. What better way to fairly put them in the story rather than exploiting them in its paragraphs?

Inspired by the beautiful (at least from the pictures, cause I haven’t saw it first handily) 5th century French tapestries, this book gave a story told by its characters’ point of views: the lady killer painter (Nicolas des Innocents) who created the tapestries’ designs, the nobleman (Jean Le Viste) and his family who hired the painter, the weaver (Georges de la Chapelle) and his family, Georges’ cartoonist (Philippe de la Tour), etc.

The plot was simple: the process of making the famous six tapestries, but what I love about Chevalier is: she can make a simple plot into intriguing story!

Before you know it, you’ll be making decisions on whose point of view that you like and whose that you’ll be dreading. Well, at least that’s what I did ;-) I enjoyed reading Philippe’s and Nicolas’ parts---reading the story from characters that have opposite personalities was so much fun, especially when “watching” them pursuing the same girl.

My favorite tapestry among the six was Touch. There’s something majestic and graceful about the lady in it, and I prefer her than the other ladies, they either too melancholy smiling their sad smiles, or too innocently young for my eyes.

Image source: http://www.tchevalier.com/unicorn/index.html

As I always do after reading Chevalier’s work, I also had fun browsing around for the historical background of this book: the weaving process, all about that century’s weavers, the tapestry patterns that century usually produced, etc. If you enjoy her books before, you’ll definitely fall in love again with this one.

Strongly agree with the Independent’s comment about this book: “Tracy Chevalier gives the kiss of life to the historical novel.”

Rate:
Published: January 2007, PT Gramedia Pustaka Utama Writer: Tracy Chevalier Translator: Pepi Smith Indonesian Title: Lady dan Unicorn Volume: 296 pages Crossposted at www.chihirosbox.blogspot.com


Posted at 04:16 pm by snoopdin
Comments (1)  

Thursday, February 22, 2007
Middlesex - Jeffrey Eugenides

"I was born twice: first, as a baby girl, on a remarkably smogless Detroit day in January of 1960; and then again, as a teenage boy, in an emergency room near Petoskey, Michigan, in August of 1974."

Itulah kalimat pembuka dari novel setebal lebih dari 500 halaman yang pertama kali diterbitkan tahun 2002. Berkisah tentang Calliope Stephanides yang terlahir sebagai perempuan dalam keluarga keturunan Yunani di Amerika yang kemudian menyadari bahwa dirinya berbeda saat usianya 14 tahun. Pada saat itu Calliope yang tidak pernah mengalami menstruasi jatuh cinta pada seorang gadis di sekolahnya.

Tadinya Calliope mengira dirinya lesbian, namun terjadinya kecelakaan membuat Calliope masuk rumah sakit dan di sana terungkap kenyataan bahwa dia terlahir dengan kelamin ganda. Akibat semacam mutasi genetik, sewaktu dilahirkan Calliope tidak memiliki penis, namun memiliki klitoris yang ukurannya lebih besar daripada ukuran wajar. Secara kromosom Calliope adalah laki-laki karena memiliki kromosom X dan Y. Namun karena ketiadaan penis itulah, Calliope dibesarkan sebagai anak perempuan.

Namun Middlesex tidak semata-mata bercerita tentang seorang gadis yang berganti kelamin menjadi laki-laki. Kisahnya jauh lebih kompleks daripada itu. Untuk mengetahui sejarah mutasi genetika Calliope, pembaca dibawa mundur hingga ke tahun 1920-an di Yunani ke desa tempat tinggal kakek-nenek Calliope tinggal dan terpaksa mengungsi ke Amerika saat terjadi perang Yunani Turki. Kita dibawa mengenal keluarga Stephanides sebagai keluarga imigran keturunan Yunani di Amerika. Kita juga diajak menyaksikan kehidupan sosial-budaya masyarakat Amerika pada tahun 1960-an. Singkat cerita, Middlesex adalah epik tiga generasi keluarga Stephanides asal Yunani dalam kerangka kehidupan di Amerika Serikat yang pada tahun 1960-an dipenuhi isu perang, kerusuhan rasial, dan tampilan kota Detroit yang jadi cikal-bakal industri mobil Amerika.

Ada satu-dua kali saya merasa seperti sedang membaca buku teks pelajaran sejarah ketika membaca novel ini, tapi bukan dalam artian yang buruk dan membosankan. Oya, saya juga ingin mengingatkan bahwa ini BUKAN novel lesbian atau novel tentang transeksual ganti kelamin jadi laki-laki. Kalau cuma topik itu yang ingin dicari, lebih baik lupakan keinginan untuk membaca ini karena Anda hanya akan kecewa. Dari segi cerita, kalau saya mau menjelaskan dengan gampang novel ini mungkin bisa dianggap "gabungan" antara novel Captain Corelli's Mandolin karya Louis de Bernieres dan Time Traveller's Wife karya Audrey Niffenegger. Tapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Middlesex adalah novel yang unik dan kaya cerita.

Middlesex termasuk novel yang ditunggu-tunggu, karena butuh sepuluh tahun bagi Jeffrey Eugenides untuk menerbitkan novel kedua setelah menerbitkan novel pertamanya Virgin Suicides yang mendapat banyak pujian. Virgin Suicides juga diangkat ke layar lebar dengan peran utama Kirsten Dunst dan sutradara Sofia Coppola. Keunikan dan kekayaan cerita yang terentang selama kurang lebih delapan dekade dalam Middlesex membuat novel ini mendapat berbagai penghargaan. Salah satunya bahkan perhargaan tertinggi dalam jagad buku, yaitu Hadiah Pulitzer tahun 2003 untuk karya fiksi.


@crossposted in Blog Rahasia Bulan

Posted at 10:45 am by coffeeaddict
Comments (3)  

Wednesday, January 24, 2007
Dress Rehearsal~Jennifer OConnell

 

Buku ini masuk kategori chicklit, yang karakternya tentu ringan dan nge-pop. Gue suka banget buku ini karena ada acara pencicipan kue pengantin berkali-kali, yang artinya imajinasi kita dimanjakan dengan kue manis salut gula, gue lemon dengan raspberry, bolu lapis, sponge cake, dengan stroberi, dengan keju, bahkan kue mangkok. Ah... senangnya baca novel dengan latar makanan... hihihi...

Alasan kedua adalah novel ini bercerita tentang persahabatan tiga cewek: Lauren, Paige, dan Robin. Lauren adalah pemilik Lauren's Lucious Licks, butik kue pengantin paling keren di Boston. Paige adalah marketer di perusahaan properti. Sementara Robin memiliki perusahaan motivasi yang kerjanya membuat seminar untuk meningkatkan motivasi para wanita. Chemistry antara tiga tokoh sahabat ini kuat sekali, mereka saling mendukung, saling terbuka. Membuat kita yang membacanya merasa hangat dan bahagia ada ikatan sebaik itu.

Tokoh utama buku ini adalah Lauren. Delapan tahun sebelumnya, Lauren putus hubungan dengan Neil yang pindah ke Washington DC dan kehilangan pekerjaan. Saat mencari pekerjaan baru dia menerima pesanan kue, dan karena laris, akhirnya membuka butik kue pengantin. Meskipun dari luar kelihatan sukses, Lauren ternyata ogah berkembang. Dia tetap mencintai Neil (meskipun menyangkal hal ini) dan ogah pindah dari flat kecilnya, pokoknya takut pada perubahan. Termasuk maju-mundur dalam hubungan dengan Charlie, pengacara ganteng, sukses, dan humoris.

Di sisi lain, Lauren merasa punya kemampuan meramal dari melihat kue pengantin yang dipesan para pasangan muda. Kalau pasangan itu bertengkar saat memilih kue, kemungkinan besar mereka akan bercerai. Jarang-jarang Lauren melihat pasangan yang langsung sepakat dalam memesan kue (dan salah satunya pasangan lesbian). Teorinya ini terbukti pada beberapa pasangan.

Robin, sejak ditinggalkan suaminya berselingkuh dengan wanita lain, terus membuat seminar yang "galak", lebih mirip seminar "membenci lelaki" bukannya seminar motivasi diri. Pernikahan Robin yang bubar itu termasuk pernikahan yang diramal Lauren dari kue pengantin.

Saat Paige bertengkar dengan calon suaminya gara-gara kue pengantin, Lauren langsung panik. Dia berusaha menyelamatkan sahabatnya dari sakitnya perceraian, dan dia minta bantuan Robin. Mereka berdua berhasil mengacaukan hubungan Paige dan pacarnya. Tapi rupanya itu bukan akhir yang bahagia bagi ketiganya. Tiga wanita ini justru makin sedih dan tenggelam dalam masalah masing-masing, tapi manisnya, mereka justru lebih memerhatikan masalah temannya daripada masalah sendiri.

Di tengah galau itu, Neil kembali ke Boston! Dan siap menikah dengan wanita lain. Lauren makin sedih saat pasangan ini kompak memilih kue pengantin mereka, dan kue itu juga kue yang disukai Lauren. Lauren merasa ini pertanda bahwa sebenarnya dia berjodoh dengan Neil. Akibatnya, dia menjauhi Charlie.

            Ketiga wanita ini terus saling mendukung dalam kehidupan pribadi, cinta, dan karier. Membuat chicklit yang tidak terlalu tebal ini (well, at least versi inggris-nya) enak dibaca dan perlu (lho, Tempo dong! Hehehe...) Sungguh bacaan ringan yang membuat hati terasa hangat, penuh, dan manis... seperti kue pengantin.

* cross posting dengan sedikit perubahan di www.cdonnaw.blogs.friendster.com


Posted at 01:57 pm by cjdw
Ditunggu komentarnya :-)  

Suite Francaise ~ Irene Nemirovsky

 

Pertama melihat buku ini di ak.sa.ra, gue langsung jatuh cinta. Dan ya ampun... buku ini bagus BANGET!

            Buku ini kuno banget, ditulis tahun 1942 (cmiiw), dengan setting masa itu, dengan gaya menulis dan alur masa itu. Tapi lucunya terasa sangat up to date, terutama di soal alur itu karena sekarang alur ganda dengan banyak tokoh yang akhirnya menyatu sepertinya lagi in lagi. Terutama di dunia film. Novel ini sangat kompleks, dan penuh emosi, sehingga gue salut banget sama penulisnya. Sayang sekali, Irene Nemirovsky meninggal di kamp Nazi di Auswitz tahun 1942.

            Irene sebenarnya merencanakan 5 bagian untuk novel ini @ 200 halaman (artinya novel utuhnya akan jadi 1000 halaman). Bagian-bagian itu Storm in June, Dolce, Captivity, Battles, dan Peace. Tapi dia hanya berhasil menyelesaikan Storm in June dan Dolce.

            Untuk pertama kalinya, gue terpaksa mencoret-coret dulu sebelum menulis resensi (secara resensi gue cuma buat blog, dan memuaskan diri sendiri gitu), dan kalau tidak salah hitung menemukan 5 karakter/kelompok karakter dalam Storm in June, dan 2 kelompok karakter dalam Dolce.

            Storm in June mengisahkan kekalahan Prancis kepada Jerman di Perang Dunia II. Dalam kepanikan warga Paris meninggalkan kota itu. Berbondong-bodong mereka meninggalkan kota itu dalam gelombang-gelombang, naik kereta api, naik mobil, bahkan berjalan kaki. Mereka semua menuju selatan ke Bordeaux, Toulouse, Lyons. Ke Spanyol dan Italia.

            Keluarga Pericand yang bangsawan kecil ikut dalam migrasi massal ini. Si ayah tinggal di Paris untuk merapikan pekerjaannya (dia kurator museum), jadi perjalanan ini dipimpin si ibu. Dia memimpin Hubert (15 th), 2 anak kecil (Jacqueline dan Emmanuel), 1 bayi, 1 pengasuh anak, 1 sopir, dan ayah mertuanya yang lumpuh dan sudah pikun. Anak sulung keluarga ini, Philippe, yang pastor berangkat terpisah memimpin anak-anak dari panti anak nakal. Kehebohan perjalanan dimulai dari packing. Barang apa yang harus ditinggal, apa yang harus dibawa? Perhiasan? Uang? Pusaka keluarga termasuk bertumpuk-tumpuk renda buatan tangan? Binatang peliharaan? Semua harus dijejalkan dalam 1 mobil, dan Hubert terpaksa naik sepeda. Awalnya, Mme. Pericand masih sabar dan baik hati pada sesama pengungsi. Dia mau membagi makanan, dan berlaku sopan. Tapi semakin jauh masuk pedalaman, bensin makin jarang, uang tak ada artinya, dan tidak ada makanan. Mme. Pericand terpaksa berlaku galak dan egois, melindungi anak-anaknya. Kesulitannya bertambah saat Hubert ingin ikut bergabung dengan tentara Prancis. Larangan tidak digubris, Hubert lari di tengah malam, hanya untuk mendapati bahwa perang sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Di tengah hujan bom, Mme. Pericand harus merelakan Hubert hilang dan melarikan diri naik kereta api. Ketika situasi semakin tenang, baru dia ingat dia telah meninggalkan ayah mertuanya yang sudah tidak bisa apa-apa. Kemalangan keluarga ini bertambah ketika kemudian datang kabar Philippe dibunuh oleh anak-anak nakal asuhannya.

            Keluarga Michaud ikut mengungsi dari Paris atas perintah atasan mereka di bank. Kalau boleh memilih Jeanne dan Maurice lebih suka tetap di rumah, menunggu kabar anak mereka yang jadi tentara: Jean-Marie. Tapi karena pekerjaan sulit didapat, dan mereka takut dipecat, mereka menyiapkan diri ikut mengungsi ke Tours bersama kantor mereka. Ternyata di hari-H pengungsian, tempat yang sedianya untuk pasangan ini telah dipakai oleh gundik direktur bank, Arlette Corail. Mereka disuruh naik kereta api ke Tours. Hampir putus asa karena tidak mungkin naik kereta, mereka nyaris batal berangkat. Tapi sekali lagi ketakutan akan kehilangan pekerjaan membuat mereka berangkat, dengan berjalan kaki! Sepanjang jalan, Jeanne meratapi nasib putranya yang tidak jelas. Dan pada akhirnya, ketika Prancis benar-benar takluk, mereka justru dipaksa kembali ke Paris oleh tentara Jerman.

            Sebenarnya mereka sempat hampir bertemu Jean-Marie. Pemuda yang terluka itu dibawa naik truk yang tadinya digunaka anak-anak dari panti anak nakal yang diasuh Pastor Philippe, di depan mata ibunya. Tapi karena cepatnya kejadian itu, pasangan Michaud tidak sadar, si anak ada di dekat mereka.

            Dari tujuan semula, truk berisi prajurit terluka itu terpaksa menyimpang untuk menghindari Jerman. Jean-Marie dititipkan di keluarga petani Sabarie. Keluarga ini hanya terdiri atas 3 wanita: ibu, putri (Cecile), dan putri angkat (Madeline), karena si ayah sudah meninggal, sementara putra mereka (Benoit) juga jadi tentara. Seiring dengan kesembuhannya, Jean-Marie jadi jatuh cinta pada Madeline, dan sebaliknya. Cinta jadi segitiga saat Cecile juga naksir Jean-Marie. Kisah cinta mereka berakhir ketika Jean-Marie mendapat kabar dari orangtuanya, lalu pulang ke Paris.

            Gabriel Corte dan gundiknya, Florence, ikut mengungsi dengan mobil dan sopir. Pasangan seniman ini benar-benar sibuk dan rese. Maklum, seniman. Makanan harus begini. Menginap harus begitu. Pokoknya mereka benar-benar menderita. Mereka juga tidak tahan melihat sesama pengungsi yang sekadar rakyat jelata. Salah satu bentuk arogansi mereka adalah tidak mau makan apa saja. Mereka minta makanan sungguhan pada pemilik restoran. Tapi saat mereka baru membawa keranjang makanan, keranjang itu dirampas dari mereka.

            Perampas keranjang makanan itu rombongan Hortense, Jules, dan istrinya Aline. Aline masih menyusui bayi, dan butuh makanan. Hortense benci kalangan atas, karena di Paris dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

            Charles Langelet yang pecinta barang seni gayanya lain lagi. Dia membungkus setiap potong keramik dengan penuh kehati-hatian. Dia juga tega menipu sesama pengungsi demi keselamatan barang-barang seninya.

            Semua bagian ini tersimpul rapi. Salah satu akhirnya adalah ketika Charles Langelet kembali ke Paris, mempekerjakan Hortense sebagai pembantu, tapi malah mati ditabrak mobil Arlette Corail.

            Bagian kedua, Dolce, dimulai ketika tentara Jerman mulai merambah Prancis. Untuk menjaga keamanan, tiap rumah tangan diwajibkan menerima satu tentara untuk tinggal bersama mereka. Di kota kecil Bussy, ada 2 keluarga utama yang dikisahkan: keluarga Sabarie (yg muncul di bagian 1 juga) dan keluarga Angellier.

            Benoit Sabarie telah kembali dari perang dan menikah dengan Madeline, mereka punya seorang putra yang baru lahir. Keluarga ini terpaksa menerima Kurt Bonnet tinggal bersama mereka. Kurt yang masih berusia belasan langsung menunjukkan ketertarikannya pada Madeline. Dan ini membakar amarah Benoit.

            Di lain pihak, keluarga Angellier terdiri atas Madame Angellier dan menantunya, Lucile. Suami Lucile jadi tawanan perang di Jerman. Orang Jerman yang tinggal bersama mereka berpangkat tinggi, Bruno von Falk. Aslinya Bruno adalah pemain musik, jadi dia sebenarnya tidak betah berperang. Perlahan Bruno tertarik pada Lucile. Lucile berusaha menjaga martabatnya, meskipun sebenarnya dia membenci suaminya, dan lebih tertarik pada Bruno.

            Sementara Bruno dan Lucile tarik-ulur, Benoit membunuh Kurt. Lucile memutuskan menyembunyikan Benoit di rumah keluarga Angellier yang besar. Mengambil risiko ketahuan Bruno.

            Bagian ini berakhir ketika datang perintah untuk menarik tentara Jerman dari kota Bussy.

            Sayang sekali kita tidak bisa membaca kelanjutan kisah tokoh-tokoh yang menarik ini. Banyak pertanyaan menggantung: akankah tokoh-tokoh itu bertemu kembali? Bagaimana dengan cinta lama (misalnya Madeline dan Jean-Marie)? Bagaimana dengan keluarga-keluarga yang kembali ke Paris? Bagaimana dengan para tawanan perang?

            Yang hebat selain alur yang tumpang-tindih ini, Irene Nemirovsky menuliskannya juga dalam pengungsian, dengan keterbatasan segala sumber daya (termasuk kertas) dan informasi. Tapi dia tetap melakukan riset, sehingga semua tokohnya sangat hidup.

            Melengkapi kisah ini, Suite Francaise juga memuat catatan-catatan Irene saat membuat alur dan mengarang kisah ini. Juga surat-menyurat yang dilakukan suaminya setelah Irene ditangkap Jerman dan dibawa ke Auswitz, juga surat-menyurat teman-teman Irene yang berusaha melindungi anak-anaknya setelah suami Irene juga diciduk.

            Sebelum meninggal, Irene yang kelahiran Ukraina dan pindah ke Prancis saat Revolusi Bolshevik ini ternyata sudah mengarang 9 novel, dan merupakan salah satu pengarang paling terkenal di Prancis.

 

*cross posting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com


Posted at 01:51 pm by cjdw
Comments (1)  

Previous Page Next Page