Photobucket - Video and Image Hosting




Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat.... Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
   

<< September 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30



Authors:


� coffeeaddict
� caramelll
� pepsi-cola
� shoeGirl
� tahutempe
� snoopdin
� cjdw
� mataempat







Untuk pencarian buku lain, silakan gunakan:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Kupunyabuku



Anda Pengunjung ke:





Another blog posts
Postings in Chihiro's Box (snoopdin):
Chihiro's Box

Posting in kupunyafilm:
http://kupunyafilm.blogdrive.com




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Saturday, September 03, 2005
OUT by Natsuo Kirino

  Setelah sekian lama absen membaca, akhirnya gw sempat juga membaca buku satu ini. OUT adalah karya pengarang Jepang, Natsuo Kirino, yg memenangkan Grand Prix top-mystery award di Jepang, dan menjadi finalis untuk penghargaan Edgar Award. Termasuk genre novel thriller-misteri. Ceritanya sungguh sensasional. Benar sekali kalau dikatakan bahwa setelah membaca novel ini, gambaran yg sudah melekat di kepala tentang perempuan-perempuan Jepang yg halus, lemah lembut dan selalu mengalah langsung berubah. Novel ini berkisah tentang pembunuhan, solidaritas antarperempuan, dan diskriminasi gender. Ceritanya mulanya sederhana, lalu berkembang menjadi tak terduga. Dan satu keunggulan novel ini: biarpun identitas si pembunuh sudah ketahuan sejak awal, tetap saja tidak mengurangi ketegangan cerita. Tetap saja pembaca dibuat penasaran, apa yg bakal terjadi selanjutnya? Dari halaman pertama sampai halaman terakhir, gw gak bisa berhenti baca.

Mau tahu ceritanya? Oke... begini: Ada 4 tokoh utama: Yayoi yg lembut, Kuniko yg senang barang bermerek hingga rela berutang sana-sini , Masako yg cerdas dan berkepala dingin, dan Yoshie yg penuh tanggung jawab serta suka menolong. Mereka perempuan-perempuan pekerja pabrik yg memilih shift malam krn bayarannya lebih besar. Suatu ketika, Yayoi yg sudah tidak tahan dng suaminya yg suka memukuli, penjudi, mabuk-mabukan, dan senang main perempuan, membunuh suaminya karena kalap. Masalahnya, hendak diapakan mayat sang suami ini supaya tidak ketahuan orang? Dia pun meminta tolong pada Masako, sahabat karibnya. Masako mengajak Yoshie utk membantu menyingkirkan mayat itu. Maka mereka berdua memutilasi mayat itu menjadi potongan-potongan kecil, lalu dimasukkan ke kantong-kantong plastik utk dibuang. Kuniko, yg kebetulan datang saat mereka sedang "sibuk", akhirnya terlibat juga. Masing-masing membawa kantong-kantong utk dibuang di tempat terpisah.

Masalahnya menjadi rumit saat polisi mulai melakukan penyelidikan. Dan di sinilah ketegangannya baru dimulai. Sampai halaman terakhir, dng ending yg mengejutkan pula. Ini mesti dibaca sendiri.

Keunggulan novel ini buat gw: tokoh-tokohnya sangat "biasa", dari kalangan bawah, dan bukan perempuan-perempuan cerdas yg malang melintang di kalangan menengah-atas, seperti dalam novel-novel pada umumnya (bosan gitu lhoo dng cerita tentang perempuan-perempuan semacam itu). Kehidupan sehari-hari mereka digambarkan dng begitu nyata, dalam kalimat-kalimat sederhana. Sambil membaca bisa terbayang betapa beratnya menjalani shift malam di pabrik, dng bayaran tidak seberapa, pulang ke rumah di pagi hari dan masih harus mengurus keluarga pula. Dunia serasa terbalik, malam menjadi siang, siang menjadi malam. Selain itu, novel ini juga memperlihatkan sisi lain perempuan. Sisi yg gelap, yg bisa tiba-tiba kalap dan bertindak tak terduga. Keunikan lainnya, biasanya tokoh utama adalah detektif atau polisi atau siapa pun yg berusaha mengungkap pembunuhan. Ini kebalikannya. Tokoh-tokoh utamanya justru para pelaku itu.


Kalo ada yg tanya, apakah novel ini terlalu sadis? Hmm... setingkat dng cerita tentang Hannibal Lecter deh, tp hanya pada bagian-bagian tertentu. Dan tidak diumbar tanpa tujuan. Apakah novel ini membuat depresi yg membaca? Enggak tuh. Tegang... iya. Penasaran... iya. Kadang gemas dan simpati pun iya. Buat yg suka thriller yg "beda", baca deh novel ini. Gak heran kalo novel ini menjadi finalis untuk penghargaan Edgar Award.

Posted at 05:13 pm by pepsi-cola
Comments (7)  

Wednesday, August 24, 2005
The Historian

   THE HISTORIAN – Elizabeth Kostova

 

 

Ini salah satu buku yg gak bisa gue baca dengan cepat padahal isinya bagus, soalnya… gue ketakutan. Kalo biasanya gue suka lupa tidur kalo lagi baca buku yg asyik, ini nggak bisa. Mau nekat dilalap, takut mimpi buruk. Akhirnya bacanya sedikit-sedikit, biar suspense-nya gak terlalu terasa. Anyway, AKHIRNYA tadi malam buku ini kelar juga gue baca.

 

Terus terang, gue tadinya nggak ngira bukunya akan seasyik ini. Kirain just another book about Dracula. Ternyata buku ini hebat. Gue serasa dapat “ilmu” baru tentang Dracula dari sudut politik dan terutama sejarah. Elizabeth Kostova bisa sedemikian rupa melibatkan Dracula dalam kekusutan politik di negara-negara Eropa Timur, juga dalam sejarah Perang Salib sehingga tahu-tahu fokusnya bergeser. Kalau selama ini kita hanya tahu Dracula berasal dari Transylvania, berkelana di Bulgaria, Hungaria, Rumania, dan Turki hanya sedikit disebut, maka di buku ini, tahu-tahu kita bagai nyebur di Turki. Kita jadi tahu berbagai hal tentang Turki, mulai dari zaman Ottoman sampai kehidupan sehari-hari di sana.

 

Ditambah lagi ketegangan karena menduga-duga soal Dracula ini, sebab si Dracula nggak pernah jelas-jelas muncul. Yang ada hanya hints di sana-sini yang justru bikin makin tegang.

 

Buku yang setebal 642 halaman ini terbagi jadi 3 bagian. Bagian pertama bersetting tahun 1930-an, tentang Profesor Rossi, dosen sejarah. Bagian kedua bersetting tahun 1950-an, dengan tokoh Paul (murid si profesor dan ayah si gadis). Bagian ketiga pada tahun 1972, tokohnya gadis Amerika berumur enam belas tahun yang sampai akhir cerita nggak pernah disebutkan namanya.

 

Gadis inilah yang pada suatu hari menemukan buku kuno dan beberapa surat lama di perpustakaan ayahnya. Buku itu kosong, tapi di bagian tengahnya ada gambar naga dan tulisan “Drakulya”. Si gadis makin penasaran ketika melihat surat-surat yang diselipkan di dalamnya berasal dari tahun 1930-an dan ditujukan kepada” "My dear and unfortunate successor".

 

Ketika ia bertanya pada ayahnya, barulah Paul bercerita. Pada tahun 1954, ketika Paul masih menjadi mahasiswa, tiba-tiba di antara tumpukan buku yang dibacanya di perpustakaan, ada satu buku yang tidak dikenalnya, yaitu buku yang belakangan ditemukan si gadis itu. Ketika Paul bercerita pada dosennya, Profesor Bartholomew Rossi, ia diberitahu bahwa profesor itu pun pernah menerima buku yang sama dan ia bertahun-tahun berusaha melupakan makna mengerikan di balik buku itu, bahwa Dracula--Vlad Tepes—masih hidup.

 

Ketika Profesor Rossi tiba-tiba menghilang dengan meninggalkan bercak-bercak darah di kamarnya, Paul mencarinya, dan akhirnya meminta bantuan antropologis muda Rumania bernama Helen Rossi. Waktu Paul menghilang juga 18 tahun kemudian, putrinya pun mencarinya, ditemani mahasiswa sejarah bernama Barley.

 

Berkat dokumen-dokumen kuno, berbagai legenda dan puisi, kisah para santo, dan lagu-lagu rakyat yang ditelusuri para tokoh ini, kita bagai dibawa berkelana ke Oxford, Istanbul, Rumania, Hungaria,Bulgaria, Prancis, Italia, Yunani, dan Swiss.

 

Dengan lihai, Elizabeth Kostova membawa kita ke puncak buku ini, ketika ketiga bagian tersebut akhirnya bertemu. Dan apakah Dracula sebetulnya masih hidup atau hanya sekadar legenda? Hmmm… baca ndiri kali ye. Gak seru banget kalo “kesimpulannya” diceritain di sini. Yg jelas, buku ini cocok banget buat yang suka cerita horor dan ingin menambah pengetahuan soal sejarah. Tapi habis ini gue mau baca chicklit dulu ah, capek baca tentang masa lalu ;-)


Oya, denger-denger sih buku ini akan difilmkan.

 


Posted at 11:52 am by caramelll
Comments (7)  

Monday, July 25, 2005
ZORRO-ISABEL ALLENDE

 


Udah lama juga saya nggak bikin review, sampe kaku pas mau nulis lagi. Tapi buku yang terakhir saya baca ini bagus banget, sampe sayang rasanya kalo gak dibagi. Pertama-tama, penulisnya, Isabel Allende, kayaknya udah ngetop banget. Kedua, Zorro, tokoh utama novel ini juga tokoh yang ngetop banget sebagai Robin Hood-nya wilayah Mexico, California, dsk.

            Zorro adalah tokoh fiksi (paling gak sepanjang saya tau), dan sepanjang saya kenal tokoh ini lewat film Hollywood (ya... ya... The Mask of Zorro yang bakal ada sekuelnya ituuu...) dan film kartun zaman kecil dulu, kayaknya masa kecilnya kurang disinggung-singgung ya. Padahal gak mesti jadi Freudian untuk tahu bahwa masa kecil itu penting banget. Wah, mulai ngelantur nih!

            Anyway, buku ini berkisah tentang masa kecil si Zorro. Mulai dari pertemuan bapak-ibunya sampai makhluk ini menjelma jadi Zorro yang keren bin ganteng bin cerdas bin pinter main pedang bin pemberani... kok ada ya orang kayak gitu?

            Alkisah, Alejandro de la Vega, prajurit Spanyol tulen yg bertugas di wilayah California (waktu itu jajahan Spanyol), bertemu Toypurnia. Cewek mestiza (campuran Spanyol-Indian) ini memimpin pemberontakan Indian di California. Pemberontakan berhasil dipadamkan, Alejandro jatuh cinta pada Toypurnia yang lalu dididik jadi wanita Spanyol dan diberi nama baru, Regina. Mereka menikah, dan dua tahun kemudian lahir Diego de la Vega.

            Akibat nyaris mati saat melahirkan, Regina tidak bisa menyusui Diego. Anak itu disusui pembantu yg juga baru melahirkan. Sejak itu Diego dan Bernardo (anak si pembantu) tak terpisahkan. Diego selalu menyebut Bernardo saudaranya. Mereka berdua sibuk menjelajahi daerah pantai California, berantem, belajar main pedang, juga sekolah (Diego yang sekolah, Bernardo karena anak pembantu baru dapat transfer ilmu dari saudaranya di sore hari). Kenakalan mereka sudah di ambang batas keterlaluan, misalnya menangkap beruang karena ditantang anak lain. Perbuatan yang meskipun butuh taktik supercerdas dan keberanian luar biasa tetap saja keterlaluan.

            Regina juga mengenalkan kedua anak itu pada sukunya (di cover belakang disebut suku Shosone, tapi dalam buku sama sekali gak disebut nama sukunya) dan kebiasaan-kebiasaan orang Indian. Jadi Diego dan Bernardo juga belajar mencari jejak, memanah, puasa, bahkan sampai ikut vision quest. Saat vision quest itu, Bernardo mendapat pelindung kuda yg mewakili kecepatan dan kesetiaan, sementara Diego rubah (zorro dalam bahasa Spanyol-nya). Rubah mewakili kecerdikan, keberanian, dan hanya muncul di malam hari.

            Saat Diego berusia 16 tahun, ayahnya mengirimnya ke Spanyol untuk tinggal di Barcelona dan bersekolah di sana. Diego dan Bernardo berangkat naik kapal laut dalam perjalanan berbulan-bulan. Dalam perjalanan ini mereka belajar trapeze (dengan lompat-lompat di tiang kapal), sulap, navigasi. Semua learning by doing, gak heran anak zaman sekarang gak bisa apa-apa.

            Di Barcelona, Diego masuk sekolah, juga memperdalam ilmu pedangnya. Guru pedangnya, Maestro Escalante, menyukai keberanian pemuda ini, lalu mengundangnya ikut perkumpulan rahasia yg bertujuan menegakkan keadilan. Namanya La Justicia. Setelah diuji, Diego berhasil jadi anggota dengan code name Zorro.

            Mulailah Zorro merajalela. Diego yang memang asalnya usil membuat tokoh Zorro ini ditakuti pejabat yang korup dan sembarangan menangkap rakyat jelata. Dia juga mendapat musuh sejati. Dan kayaknya saking semangatnya saya, review ini udah kepanjangan. Intinya buku ini asyik, ringan, tapi berisi.... Gak bakal kuciwa deh!


Posted at 03:25 pm by cjdw
Comments (1)  

Tuesday, June 07, 2005
Cat and the Stinkwater War - Kate Saunders

Cat and the Stinkwater War  -  Kate Saunders

 

 

 

Sebagai pecinta kucing, gue langsung ambil buku ini begitu ditawarin beberapa buku yang perlu dibaca. Ada gambar kucing sih di covernya, terus sinopsis di belakangnya juga kayaknya lucu. Canggih lho covernya, bertekstur beludru! Eh, tapi ternyata setelah gue browsing di Internet, furry cover ini khusus cetakan 2005. Yg sebelumnya sih biasa aja.

 

Terus terang, gue rada waswas kalo baca buku ttg kucing. Kebanyakan gak seru atau terasa dibuat-buat. Pernah gue baca buku ttg dua kucing yg kok bisa kirim email dan berkelakuan kayak manusia, ada yg sok anggun gitu. Ih, males banget. Biarpun cinta kucing, tapi kalo ketemu kucing sok kayak gitu, kayaknya bakal gue tendang juga deh :-p

 

Ceritanya ttg Cat, cewek 12 tahun yg ayahnya arkeolog dan ibunya businesswoman supersibuk. Suatu hari ayahnya menerima lempengan batu putih dari temannya sesama arkeolog. Batu itu katanya salah satu dari dua kunci The Temple of Pahnkk yg berisi harta karun. Pahnkk adalah dewa di Mesir kuno, jauh sebelum zaman firaun.

 

Ternyata berkat batu itu Cat bisa berubah jadi kucing! Ia pun jadi bisa ngobrol dg kucingnya yg selama ini dipanggilnya Eric tapi ternyata di dunia kucing punya nama lain: General Nigmo Biffi. Bersama Biffi, Cat jadi tahu bahwa di sekitar rumahnya ada dua geng kucing yg berebut kekuasaan: geng baik-baik pimpinan Cockleduster IX, kucing gaek yg sdh lama tergeletak sakit di keranjangnya tapi ternyata tetap doyan makan. Calon penggantinya adalah Crown Prince Cockit, yang takut sama istrinya, Princess Bing. Di kelompok ini ada pendetanya segala: si Everlasting Prendergast, kucing ndut berbulu hitam dg secuil warna putih di leher ;-)

 

Lawan mereka adalah kelompok yg dipimpin Darson Stinkwater, dibantu Major Mincible, kucing jantan yg garang tapi cakep :-p. Selain kelompok ini, ada juga kelompok kucing liar dekat stasiun KA yg dipimpin Spikeletta, kucing betina berkuping satu.

 

Kelompok-kelompok ini sudah bertahun-tahun berkelahi memperebutkan lambang kekuasaan. Tadinya gue kirain bendanya apa, ternyata: sarden! Biarpun sarden ini berasal dari zaman dahulu kala, tapi tetep aja: sarden. Kucing banget sih! Berkat bergaul di kalangan kucing, Cat jadi tahu bahwa di dunia kucing ada juga pengkhianatan, perebutan kekuasaan, bahkan kisah cinta romantis mirip Rome dan Juliet.

 

Gara-gara membantu mendamaikan para kucing ini, Cat yang tadinya gak punya teman di sekolah jadi bersahabat dg Lucy yg pemalu, karena kucing Lucy (Puss-Pie alias Mrs Queenie Eatsmuch) mati dalam pertempuran. Juga dengan Emily, musuh bebuyutannya selama ini.

 

Kate Saunders pinter banget nulis buku ini, very lively. Gue jadi serasa bisa tau bagaimana kehidupan sebagai kucing. Jadi kepikir aja gitu: jangan-jangan di dunia kucing di sekeliling kita memang ada ya perebutan kekuasaan seseru yg digambarkan buku ini. Hmmm… gue jadi memandang kucin-kucing rada lain nih. Siapa tau kucing garong supermanja di belakang rumah gue ternyata menteri dunia kucing. Atau kucing kereng penuh bekas luka itu gak taunya menteri pertahanan? :-p

Posted at 01:03 pm by caramelll
Comments (5)  

Monday, May 30, 2005
Nayla - Djenar Maesa Ayu



Djenar Maesa Ayu selalu menjadi sosok yang dipuja dan dihujat karena kontroversi dan keberaniannya membahas masalah "selangkangan" dan seks dalam cerpen-cerpennya.

Buat penggemar Djenar, novel "Nayla" ini jelas layak dibaca. Jangan dengar apa kata orang tentang segala komentar "pakar" atau apalah namanya yang menganggap diri mereka lebih baik, dan menganggap tulisan Djenar hanya membahas seks. Please deh... hari gini masih kayak gitu? :p
IMHO, dan saya juga tidak pernah bisa mengerti orang-orang yang menganggap Djenar tidak pantas dan tidak layak disebut pengarang sastra. Sampai kapan sih seorang Djenar harus membuktikan dirinya?

Novel "Nayla" ini termasuk salah satu novel yang saya tunggu-tunggu kehadirannya, sehingga wajar kalau saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap novel ini.
Walaupun ditulis dengan bahasa yang sederhana dan tidak se-surealis cerpen-cerpennya, "Nayla" memiliki sejumlah kekurangan di sana-sini.
Sebagai salah satu orang yang menganggap Djenar sebagai seorang penulis berbakat, sejujurnya saya merasa agak kecewa dengan novel ini. Bukan karena dia penulis yang buruk, tapi karena dia bisa menulis lebih baik daripada ini. Jika cerpen-cerpennya kadang-kadang membuat saya terpana dan kehilangan kata-kata seusai membacanya, tidak demikian dengan novel ini. "Nayla" tidak memberikan saya ruang untuk mengagumi kepiawaian sang pengarang yang biasanya membuat saya terkagum-kagum.

Membaca "Nayla" seperti membaca jalan hidup seorang Djenar. Sama seperti Djenar, sang tokoh yang bernama Nayla ini memiliki orangtua seniman dan menjadi cerpenis yang karya-karyanya dianggap "berani". Sulit bagi saya untuk tidak membandingkan Nayla dan Djenar. Entahlah. Itu mungkin cuma perasaan saya saja.

Dalam cerpen-cerpennya, Djenar biasanya mampu menggodok luka dalam ruang imajinasinya hingga menjadikan karya yang luar biasa tajam. Sementara dalam "Nayla", saya merasa Djenar hanya melempar tulisannya mentah-mentah---tapi, untunglah saya penggemar sushi---sehingga dalam sejumlah bagian saya bisa menikmati novel ini. Ada sejumlah bagian yang membuat saya miris dan mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Seno Gumira. Yang paling saya sukai dari novel ini adalah bagian di Cerita Pendek berjudul "Laki-laki Binatang" di halaman 38-42. Saya jadi teringat kembali dengan kekuatan cerpen Djenar.

Membaca "Nayla" berarti ikut larut dalam kepedihan dan ketidakbahagiaan sang tokoh, seperti merasakan tusukan peniti yang jadi sampul buku ini. Walaupun saya hanya bisa memberi nilai 7 untuk novel ini, saya tidak kapok dengan debut novel Djenar Maesa Ayu karena saya yakin di masa yang akan datang dia bisa menulis lebih baik lagi.

Di awal buku, ada kutipan dari Budi Darma, "tidak ada seorang pun yang memilih untuk tidak bahagia." Tapi entah bagaimana saya merasa Nayla (atau mungkin Djenar) memilih untuk menghindari kebahagiaan. Tapi jika dia bahagia, mungkinkah akan ada novel seperti ini?



Posted at 11:02 am by coffeeaddict
Comments (9)  

Wednesday, May 18, 2005
The Motorcycle’s Diaries-Ernesto “Che” Guevara

 


Siapa sih Che? Mungkin kamu pake-pake baret kayak dia. Sok-sok pake kaus bergambar wajahnya. Bawa-bawa pin bergambar dirinya. Tapi, ¿que es el Che?

 

Saya sendiri gak kenal Che Guevara lebih dari wajahnya yang menghias berbagai benda. Oke, dia pejuang revolusioner, tapi apa yang dia lakukan? Dia orang apa? Cuba? Bukannya Cuba itu komunis dan komunis dianggap barang haram di Indonesia? Dia revolusioner? Wah, nggak asyik dong!

 

Ternyata salah semua! Che mungkin orang paling puitis, manis, sayang ibunya, sayang pacarnya. Che juga bandel, patah hati ketika diputus pacar. Pendeknya, dia orang biasa (ternyata).

 

Buku ini menceritakan petualangan Che---ketika namanya “masih” Ernesto---dan temannya Alberto. Saat itu Ernesto mahasiswa kedokteran tingkat akhir berusia 23 tahun, Alberto ahli farmasi berusia 29. Mereka memutuskan berkelana keliling Amerika Selatan naik motor Alberto yang diberi nama La Poderossa (The Mighty One). Tujuannya bukan sekadar jalan-jalan atau membuktikan sesuatu (jadi inget Ewan McGregor), tapi juga ingin melihat budaya rakyat. Alasannya selama ini yang mereka dapat cuma teori dari sekolah, tapi realitasnya gak tau (waow!).

 

Perjalanan ini jelas penuh jatuh-bangun (dan La Poderossa cuma tahan sampai di negara kedua sebelum rusak total), kehabisan makanan, kehabisan uang, gak punya tempat nginep. Tapi akhirnya Ernesto dan Alberto berhasil menjalani seluruh pesisir barat Amerika Selatan. Apa aja yang mereka dapet? Gimana kesan-kesan mereka dalam perjalanan ini? Hmm... kalo kamu termasuk yang masang foto Che di kaus atau di pin atau di manalah, kayaknya buku ini akan membantu kamu kenal dia sebagai “manusia”.

 

Dan satu lagi: Ernesto Guevara de la Serna orang Argentina, bukan Cuba!


Posted at 10:02 am by cjdw
Comments (5)  

Next Page