Welcome to Kupunyabuku!
Blog ini dibuat dan diisi oleh sekumpulan pecinta buku yang ingin membagi cerita/info tentang buku-buku asyik yang pernah dibacanya.
Moga2 bermanfaat....
Makasih ya udah mau meluangkan waktu untuk baca blog ini.
^-^
|
 |
Thursday, July 19, 2007
Terus terang aja gue baca buku ini karena katanya bakal dibuat film dan Orlando Bloom jadi pemeran utamanya (hehehe). Tapi nggak nyesel kok karena ternyata buku ini seru banget! Beda banget sama novel berikut Robert Harris yang pernah gue baca: Imperium. Imperium lambat, terlalu cerdas, bikin ngantuk. Sementara Pompeii meskipun cerdas, tak terasa menggurui. Sebaliknya fakta-fakta sejarah maupun sains yang dipaparkan membuat cerita terasa hidup. Setting Pompeii pada tahun 70-an Masehi di pesisir barat Italia, yang sekarang jadi Napoli dsk. Bagi yang belum tahu, Pompeii adalah nama kota yang dikubur oleh letusan Gunung Vesuvius. Dan buku ini mengisahkan 4 hari seputar letusan mahadahsyat itu. Diawali 2 hari sebelum letusan, air di kota-kota seputar Pompeii mengering dan berbau sulfur. Di zaman itu orang Romawi sudah memiliki sistem distribusi dan saluran air yang sangat baik dan modern. Air dialirkan dari mata airnya di Vesuvius dengan saluran air Aqua Augusta ke kota-kota di sepanjang pesisir. (Menurut gue, Harris cerdas banget mengambil core cerita dari soal air ini.) Di Misenum (selatan Pompeii), insinyur air yang baru datang dari Roma, Marcus Attilius, disibukkan dengan masalah air ini. Saat bingung karena menghilangnya air, Marcus disambangi Corelia Ampliata yg histeris memintanya ikut demi menyelamatkan budak yg dibunuh ayahnya, jutawan Ampliatus, dg dilempar ke kolam belut. Budak itu dibunuh krn ikan-ikan koi peliharaannya mati semua. Sebelum dilempar ke kolam belut, budak itu berteriak bahwa yang salah airnya. Karena itulah Corelia minta tolong Attilius. Attilius gagal menyelamatkan budak itu, tapi kembali mendapat bukti bahwa air dari Aqua Augusta berbau belerang, plus mulai membuka hati bagi Corelia (gosipnya peran ini ditawarkan bagi Scarlett Johanssen). Ketika kemudian air Aqua Augusta untuk Misenum dan kota-kota di utaranya, kecuali Pompeii, benar-benar kering, Attilius memutuskan pergi ke Pompeii untuk menyelidiki sebabnya. Attilius minta kapal pada pemimpin garnisun Romawi di Misenum, Plinius. Pliny yang menganggap dirinya ilmuwan, langsung menyukai si insinyur muda, dan meminjamkan kapal untuk pergi ke Pompeii. Berangkatlah Attilius dengan anak buah yg belum akrab dengannya. Salah satu anak buahnya, sang mandor Corax, bahkan jelas-jelas menunjukkan kebencian pada Attilius. Di Pompeii, Attilius segera mengatur ekspedisi untuk mencari kebocoran Aqua Augusta. Tak dinyana, dia segera berbenturan dengan sang jutawan Ampliatus. Ampliatus mengajak Attilius untuk kongkalikong mengalirkan air ke spa miliknya dengan bayaran tertentu. Dasarnya lurus, Attilius menolak mentah-mentah tawaran ini, akibatnya menjadikan Ampliatus musuhnya. Saat Attilius berangkat ke pegunungan Vesuvius untuk mencari kebocoran, Corelia mencuri dengar rencana ayahnya membunuh Attilius. Gadis itu segera menyusul sang insinyur, selain untuk memberitahu rencana jahat itu, juga untuk memohon Attilius agar membawanya serta karena Corelia ogah dinikahkan dengan pilihan ayahnya. Di kaki Vesuvius, Attilius berhasil mendapati kebocoran saluran Aqua Augusta, dan menambalnya. Corelia juga berhasil menemuinya dan memberitahu rencana jahat ayahnya, tapi kebalikan dg keinginan gadis itu, Attilius menyuruhnya pulang ke Pompeii. Sementara itu tanda-tanda akan meletusnya Vesuvius makin nyata. Gempa-gempa kecil makin sering, dan suara gemuruh nyata terdengar. Saat anak buahnya kembali ke Pompeii, Attilius memilih mendaki Vesuvius untuk mencari tahu asal suara gemuruh dan gempa. Di puncak gunung, ia segera sadar bahwa gunung akan meletus, dan dimulailah pacuan antara manusia-kuda dengan lahar dan awan panas. Attilius berhasil pergi dari kaki Vesuvius dan Pompeii. Tapi gunung itu benar-benar meletus, menyebarkan abu panas, mengguncang bumi dengan gempa. Attilius ikut di barisan depan pengungsi ke kota berikut. Ia berniat terus lari ke Misenum untuk minta tolong garnisun Romawi pimpinan Pliny. Pliny memang segera menolong dengan mengerahkan seluruh kapal perang ke Pompeii untuk mengangkut pengungsi. Sayang sekali, kemarahan Vesuvius ikut membuat laut bergolak, dan armada itu musnah. Attilius berhasil ikut armada tersebut sampai setengah jalan kembali ke Pompeii. Teringat pada Corelia, dan rasa bersalah karena menyuruh gadis itu kembali ke Pompeii, ia berkeras ingin kembali ke sana. Di Pompeii, setelah letusan pertama, orang-orang masih berkumpul, bahkan mulai melakukan penjarahan. Attilius berhasil menemukan Corelia, tapi dia harus menghadapi Ampliatus. Saat ini Pompeii menjadi objek wisata. Sejak abad ke-18, diadakan penggalian situs purbakala di sana. Dari penggalian tersebut banyak temuan utuh, termasuk jasad manusia dalam pose-pose sehari-hari. *cross-posting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*
Posted at 03:05 pm by cjdw
Permalink
Friday, June 29, 2007
Lovasket ~ Luna Torashyngu
Ini dia karya terbaru pengarang TeenLit paling produktif. Sejak 2005, Luna Torashyngu sudah menerbitkan 6 buku (Love Detective, Victory, Beauty and the Best, Dua Rembulan, Angel's Heart, dan Lovasket), dus rata-rata 2 novel per tahun, dengan kualitas yang bagus, dalam artian alur cerita lumayan menarik, tokoh-tokoh yang kuat, membawa pesan-pesan "moral" yang baik bagi pembaca.
Bagi gue, Lovasket punya kelas tersendiri di antara novel-novel Luna. Lovasket punya aksi yang seru, juga alur yang bulat. Meski awalnya ada rasa mirip-mirip dengan film remaja yang ada di pasaran (sebenarnya semua novel Luna punya rasa ini, tapi entah bagaimana toh berbeda dengan film-film remaja/sinetron yang ada di pasaran), tapi akhirnya Lovasket bisa membawa kita masuk ke dunianya sendiri. Ceritanya juga lumayan dekat dengan kehidupan orang Indonesia, jadi sama sekali tidak mengambang. Alkisah, Vira memiliki segalanya dalam hidup (duh). Ortu kaya (bapaknya Direktur cabang salah satu bank pemerintah di Bandung), harta-benda tercukupi, teman-teman (Vira ketua geng The Roses), sekolah elite, dan jagoan basket (Vira MVP Kejuaraan Basket se-Jawa-Bali). Imaji indah itu buyar ketika ayah Vira dituduh korupsi dan ditahan di penjara.
Wuush... mendadak Vira dan ibunya harus keluar dari istana mereka, terpaksa tinggal di rumah kecil dengan harta seadanya. Vira kehilangan pacar, teman, dan sekolah saat dia menolak berhubungan badan dengan pacarnya (anak ketua yayasan sekolah) yang memanfaatkan sikon. Ia terpaksa masuk ke sekolah negeri di pinggiran Bandung. Dalam situasi baru ini Vira seolah mematikan dirinya: ogah berteman, ogah main basket, ogah hidup.
Ibu Vira berusaha memperbaiki kondisi anaknya dengan minta tolong Niken. Niken adalah Ketua OSIS di SMA baru Vira. Sebetulnya urusan Niken sudah banyak, antara lain menyeleksi ekskul yang akan ditutup dan dipertahankan. Maklum, SMA miskin jadi tidak bisa memiliki ekskul terlalu banyak.
Salah satu ekskul yang jadi perhatian Niken adalah basket, karena sahabat SMP-nya, Rei, jadi ketua ekskul itu. Tahu bahwa Vira pernah jadi MVP, Niken membujuk cewek itu untuk ikut ekskul basket dan mengangkat nama sekolah supaya ekskul tersebut tidak ditutup.
Melalui pergulatan panjang, akhirnya Vira bergabung dengan tim basket, dan puncaknya bertanding melawan bekas sekolahnya. Beberapa pertandingan basket yang seru mewarnai sepanjang novel ini.
Selain tulang punggung cerita: hubungan Vira-Niken, juga basket, yang kuat. Novel ini juga menyinggung perbedaan kaya-miskin, persahabatan sejati, cinta remaja, tanggung jawab, dalam side stories-nya. Bagusnya lagi side stories ini dikisahkan dengan menyatu, tidak sekadar tempelan. Pesan-pesannya pun tidak terasa menggurui tapi sangat menyatu dengan keseluruhan ceritanya.
Novel ini sangat ringan tapi dalam dan membangkitkan semangat juga, enak buat jadi bacaan di akhir minggu.
Posted at 01:38 pm by cjdw
Permalink
Saat baca buku ini, gue berulang kali tertawa, nyengir, terenyuh, tergugah. Jadi gue simpulkan bahwa buku ini bagus.
Gue beli buku ini karena posting di milis indobackpacker yang bilang buku ini memuat kisah perjalanan keliling Eropa, plus tokohnya kuliah di Sorbonne. Uuu... c'est mon reve eternel! Hahaha... Saat bukunya datang dari www.inibuku.com, gue langsung jatuh cinta sama foto pengarangnya. HAHAHA... Mungkin karena dia bersandar pada dinding batu yang kayaknya kuno banget, dengan pengumuman bertulisan Italia di sisinya. Tapi itu kan baru kulitnya.
Isinya diawali dengan kisah nama si badung Ikal (yang ganti nama 3x) dan orang-orang yang berpengaruh baginya. Ini awalan yang bagus, terutama bagi orang yang nggak baca 2 buku sebelumnya (Laskar Pelangi & Sang Pemimpi) seperti gue. Orang2 ini jadi tetap merasa mendapat kisah yang komplet, bukan sekadar lanjutan saja. Dilanjutkan dengan permohonan beasiswa Ikal ke Uni Eropa (sialan, kalo tahu GBHN berguna, mungkin dulu gue lebih mantengin MKDU! Hahaha), dan berangkatnya Ikal serta Arai ke Eropa. Terlunta sejenak di Belanda, sebelum akhirnya mendarat di Sorbonne. Selanjutnya, kisah tentang kuliah, teman-teman kuliah, serta percintaan Ikal. Sampai akhirnya taruhan yang membuat Ikal, Arai, dan semua teman kuliah mereka jadi keliling Eropa (dan Afrika) dengan mengamen di suatu libur musim panas. Diseling juga dengan kisah cinta mati Arai pada Zakiah Nurmala, dan Ikal pada Njoo Xian Ling.
Ada bagian-bagian yang menyentuh bagi gue, misalnya saat Ikal terharu mendengar lagu Anggun, Snow on the Sahara. Rasa kebangsaan gue ikut terusik dan tersentuh. Manisnya mendengar orang negeri sendiri tenar di dunia internasional. Gue juga tersentuh pada kisah cinta (platonis banget, actually) Ikal dan Katya, dan kisah Ikal dan A Ling--zahir-nya. I wonder, apakah Andrea Hirata sempat membaca Zahir-nya Paulo Coelho sebelum menyelipkan kisah Ikal dan A Ling.
Gue juga senang banget novel ini karena dia cerdas, dalam artian menyelipkan bumbu ilmu dengan luwes, tidak menggurui, tidak sekadar menempelkan. Seperti dalam Mimpi-Mimpi Einstein.
Yang bagus juga, buku ini penuh semangat, keceriaan, kenekatan, optimisme. Yang membungkus semua hingga cacatnya tertutupi.
Impresi lain yang gue dapat dari buku ini adalah gaya Melayu-nya yang kental sekali. Gue berusaha membayangkan di buku mana lagi gue mendapat gaya seperti ini? Dan berbagai nama pengarang Indonesia zaman dulu yang mampir ke kepala gue. Gue berusaha membayangkan karya-karya pengarang luar negeri. Nope, gak bisa... gayanya beda banget! So, mungkinkah ini gaya yang indigenous Indonesia? hihihi...
Sayang sekali, novel ini juga tidak luput dari cacat. Antara lain yang paling mengganggu gue adalah keterangan tentang Benjamin Franklin yang disebut Presiden AS yang menghapus perbudakan (itu Abraham Lincoln, Ben Franklin TIDAK PERNAH jadi presiden AS) dan percakapan. Entah kenapa percakapan dalam buku ini kalimatnya disusun vertikal, padahal itu membuat pembaca CAPEK.
Tapi all in all, novel ini sangat enak dinikmati kok...
Posted at 01:35 pm by cjdw
Permalink
Thursday, May 31, 2007
Gue jadi ingat bahwa gue punya buku ini saat dia diterbitkan ulang bulan Mei ini. So, gue bongkar-bongkar kardus, dan voila! Memang gue punya, bahkan masih disampul plastik. Dan mulailah gue membaca. Seperti karya-karya Pearl S. Buck lainnya, Mandala sangat mengalir dan menyentuh. Konfliknya pun masih antara Barat dan Timur, lama dan baru. Mungkin ini konflik yang paling mengemuka di masa aktif pengarangnya menulis (sekitar tahun 1920-1950-an). Alkisah Maharana Jagat dari Amarpur, Rajasthan, India ingin mengubah istana danaunya menjadi hotel. Soalnya saat India merdeka, dia tidak lagi bisa memungut pajak dari tanah-tanahnya. Tanah-tanahnya itu pun dikurangi luasnya oleh pemerintah. Tapi di lain pihak, Jagat tetap harus membayar para pelayannya, mengelola istana-istana dan tanah yang masih tersisa, menyekolahkan anak-anaknya, dan menafkahi istrinya. Singkatnya mempertahankan gaya hidup yang kadung mewah. Maka mulailah sang maharana mengerjakan proyek besarnya merenovasi istana danau hingga menjadi hotel kelas internasional. Dia memanggil arsitek dari Amerika, Bert Osgood, untuk mengerjakan renovasi itu. Deskripsi kemegahan dan kemewahan istana danau ini (juga istana yang Jagat tinggali) sangat patut disimak dan pasti membuat tercengang-cengang pada betapa meriahnya hidup para bangsawan lama. Di lain pihak, Buck juga menceritakan tentang Moti, sang maharani, yang pendiam tapi cerdas menguasai berbagai bahasa. Moti modern sekaligus tradisional. Dia istri India yang menikah karena dijodohkan, tanpa cinta, selalu patuh pada suami, tidak pernah meminta. Dan anggota lain keluarga Jagat: anak-anaknya Jai dan Veera. Jai yang berusia 18 tahun pergi berperang melawan Cina dan tewas, membuat keluarganya gonjang-ganjing karena ibunya percaya Jai belum mati. Akibatnya Moti memohon Jagat mencari Jai. Dalam pencarian, Jagat malah bertemu dan akhirnya bercinta dengan gadis Amerika, Brooke. Baru dari gadis inilah Jagat merasakan cinta yang sesungguhnya, bukan akibat perjodohan orangtua. Tapi karena India sudah modern, Jagat tidak bisa seenaknya membuat harem dan menjadikan Brooke istri kedua. Mereka akhirnya harus menyembunyikan hubungan mereka. Masalah Jagat bertambah ketika putrinya, Veera, naksir Bert Osgood. Karena Veera sudah ditunangkan, Bert terpaksa mengalah dan pergi dari India, meninggalkan hotel istana danau tepat saat akan dibuka. Tarik-menarik antara dunia baru dan lama, tradisi dan modernitas, orangtua dan anak, sangat kuat tergambar dalam novel ini. Meskipun beberapa novel Pearl S. Buck lain lebih kuat, tapi Mandala tetap merupakan bacaan yang enak dinikmati sebelum tidur.
*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*
Posted at 01:19 pm by cjdw
Permalink
Saturday, March 10, 2007
Cerita dari Gedung Arca: Serba-Serbi Museum Nasional Jakarta~Wahyono Martowikrido
Buku kecil ini
menarik banget buat gue. Pertama-tama karena sulit sekali mendapatkan buku yang
bercerita tentang museum, bangunan tua, ataupun sejarah di Indonesia. Kalaupun
ada, textbook banget. Mmm... kita
bukan mau kuliah lagi, kan? Dus, buku ini pas banget: cerita sejarah dengan
gaya artikel yang santai. Memang isinya adalah artikel-artikel si pengarang
yang pernah dimuat dalam Intisari,
tahun 1964-1975. Tapi meskipun artikel termudanya usianya sama dengan gue,
bahasanya tetap enak dibaca dan dinikmati. Rasanya selain Pak Wahyono pintar
bertutur, peran editornya (JJ Rizal), cukup besar. Sayang sekali, kumpulan
artikel berhenti di tahun 1975, ke mana sisa artikel 32 tahun setelahnya? Ayo
dong Bapak, bikin lagii...!!!
Orang Jakarta selalu melewati Museum
Nasional, atau juga dikenal sebagai Museum Gajah dalam perjalanan dari Selatan
ke Utara, mungkin dari Blok M ke Glodok atau ke Mangga Dua. Sekarang di
seberangnya ada halte busway “Museum”. Lebih ke seberangnya lagi ada Monas. Dan
di sebelah sono dikit ada Istana Negara. Anyway,
Museum Nasional ini letaknya benar-benar di pusat Jakarta. Tapi seberapa banyak
yang pernah masuk ke sana dengan tidak terpaksa? Artinya bukan karena ikut
rombongan sekolah, atau karena tugas mengarang, tugas menggambar, atau
tugas-tugas lain sejenisnya? Sombong... sombong... aku pernah! Aku pernah!
Hehehe... Sama beberapa pacar (dua pacar gue pernah gue ajak ke sana), sama
teman, sama adik dan orangtua. Dan dalam kunjungan-kunjungan itu, gue seolah
merambah peta buta. Gue cuma bisa memerhatikan koleksinya yang begitu banyak
rupa dan indah-indah, tanpa tahu cerita di baliknya. Mungkin Museum Gajah harus
membuat audio-guide yang disewakan
seperti di museum-museum Eropa. Atau, memperbanyak guide yang tidak menyeramkan. Maklum, kesan kita begitu masuk
instansi pemerintah kan “Bakal ada pungli nih! Bakal ada pungli nih!” Padahal guide yang bagus kan membuat kunjungan
ke museum sangat menyenangkan, seperti kunjungan ke Museum Bali di Denpasar
dulu itu. (Mmm... kalo gue gak dikira orang Jepang juga mungkin kami gak
dideketin.)
Anyway,
kok ngelantur. Yah, tapi buku kecil ini mungkin bisa memberi warna lebih
manusia pada arca-arca batu dan gedung yang menyimpannya. Dari dua belas
artikel yang termuat di dalamnya, gue susah memilih mana yang gue paling suka.
Jelas artikel tentang manusia-manusia di balik museum itu yang paling
menyentuh. Misalnya kisah Ibu Mastini (Perpustakaan
Museum Pusat yang Tertua di Asia Tenggara) membuat gue drooling, soalnya ibu ini jadi kepala perpustakaan yang koleksinya
begitu kaya—secara gue suka buku gitu loh. Lalu kisah tentang Ghozali, Naiman,
dan Dulloh juga membuat gue tersentuh. Pak Ghozali yang jadi kurator koleksi
numismatik (uang) museum kayaknya pinter banget. Pak Naiman yang penjaga museum
rasanya tulus banget. Sementara Pak Dulloh yang dijuluki Mur Jangkung kok
Betawi banget, dan lucu.
Cerita tentang koleksi museum yang
gak bernyawa pun menarik. Misalnya cara membuat patung perunggu. Tekniknya
ternyata lumayan sederhana dan bisa kita sontek: bikin model dari tanah liat,
lapisi dengan lilin, setelah lilin keras, ukir sampai ke bentuk patung yang
kita inginkan, lalu lapisi lagi dengan tanah liat. Jangan lupa bikin lubang
untuk menuang perunggu dan mengeluarkan lilin. Setelah cetakan ini jadi, tuang
perunggu ke dalamnya. Perunggu yang superpanas akan mencairkan lilin, lilin
mengalir keluar, perunggu mengisi rongga “patung” lilin. Mmm... maksud gue sih
bisa kita tiru kalau ada bengkel dan tunggu pemanas besi di rumah ya... jangan
dicoba dengan kompor gas biasa.
Ada juga cerita tentang topeng nenek
moyang, patung-patung tradisional, keramik Swatow. Semuanya ringan dan menarik.
Anyway,
ngelantur lagi. Ya, menurut gue buku kecil begini sangat menarik dan perlu buat
memberi sudut pandang lain bagi museum yang kesannya kumuh (ngngng... mungkin
Museum Gajah gak kumuh ya...), membosankan, menyeramkan. Mau dong bikin buku
kecil kayak gini buat museum-museum lain. Museja, Museum Tekstil, Museum
Keramik, Museum Bahari, Museum Wayang, dll, dsb. Soalnya tiap benda di museum
pasti punya cerita, kalo benda itu just
another benda, ngapain dimasukin museum?
*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com
Posted at 10:41 am by cjdw
Permalink
Thursday, March 08, 2007
tubuh siapakah melukis gelap
melubangi cahaya dalam terowongan,
menuju petabuta.
para pejalan menanti sejutamil jarak mengkerut.
dalam perjalanan matahari membeku.
para pemahat merias wajah kota yang terkubur.
di bawah tanah terkutut.
tubuh siapakah, perempuan yang menangis,
ibu yang kesepian, mengukir abad lelaki,
di loronglorong peradaban penuh dendam.
(Kota Bawah Tanah~Dorothea Rosa Herliany)
Begitu membaca sajak di atas, gue langsung berkomentar, "Ya ampyiuuun... Kok bisa?" Ya, soalnya sajak itu benar-benar menggambarkan isi buku Neverwhere~Neil Gaiman yang udah gue baca berulang-ulang-ulang, sekitar 5 kali deh.
Biarpun udah bolak-balik baca, gue gak pernah kehilangan kekaguman pada novel ini. Saat pertama kali membaca novel ini, gue menyembah-nyembah Neil Gaiman. Gilaaaa... imajinasinya dahsyaaaat!!! Dia menabrak semua pembatas, menciptakan dunia sendiri, menjadikan segalanya mungkin. Pada kali kedua dan selanjutnya, gue mengagumi logikanya. Segala hal aneh yang dia rangkai menjadi mungkin karena dia berhasil menempatkan logika yang kuat di balik keajaiban itu. Itulah indahnya kisah fantasi.
Alkisah Richard Mayhew yang superBIASAbangetsekali pindah ke London. Di sana dia bekerja di firma sekuritas top, tinggal di apartemen kecil, dan punya tunangan cantik yang ngeselin. Hidupnya biasa. Dirinya sangat biasa. Bahkan antikomitmen dan kurang pede. Kalau berkenalan dengan orang, dia selalu gak yakin, "Aku? Mau kenalan sama aku? Serius? Oh, ya? Oh, aku Richard. Richard Mayhew. Dick." Panjang dan gak tegas. Yah, dia cuma orang biasa.
Suatu hari, dalam perjalanan akan makan malam bersama bos tunangannya, Richard melihat seorang gadis gelandangan terkapar berdarah. Richard memutuskan menolong gadis itu. Salah besar! Ternyata tindakan penuh kasih itu berubah jadi bumerang yang menghancurkan hidupnya.
Richard menolong Door (nama gadis itu), membersihkan lukanya, dan menyembunyikannya dari Croup dan Vandemar, yang mengejarnya. Richard menghubungi Marquis de Carabas yang lalu membawa gadis itu pergi. Itu hari Sabtu.
Hari Senin, Richard mendapati dirinya tidak ada lagi. Dia tidak punya pekerjaan, tunangan, apartemen. Dia tidak diakui ada di dunianya. Jadi dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya: mencari Door dan Marquis de Carabas. Masuk ke dunia mereka. Masuk ke dunia ajaib yang tidak nyata: London Bawah.
Petualangannya di London Bawah dimulai dengan hampir mati serta diselamatkan seekor tikus, binatang tidak penting yang menjijikkan bagi kita, penghuni dunia atas. Richard lalu diantar mencari Door dan Marquis de Carabas ke Pasar Terapung oleh seorang rat-speaker, Anaesthesia. Dalam perjalanan singkat mereka, Richard mendapat pelajaran tentang empati. Richard yang tadinya "biasa", tergugah perasaannya mendengar kisah hidup Anaesthesia. Bahkan merasa sangat bersalah saat gadis itu hilang di Night's Bridge.
Di Pasar Terapung Richard berhasil menemukan Door dan Marquis de Carabas. Kedua orang itu sedang mencari pengawal, karena nyawa Door terancam setelah Croup dan Vandemar membantai keluarganya. Pengawal itu Hunter. Akhirnya Richard dan ketiga orang itu berkelana keliling Dunia Bawah, utamanya sih untuk mencari siapa pembunuh keluarga Door, tapi masing-masing anggota fellowship punya tujuan sendiri. Richard ingin bisa mendapatkan hidupnya yang lama. Hunter ingin membunuh Monster Dunia Bawah London. Marquis de Carabas, well, dia sih oportunis yang ingin mendapat keuntungan dari apa pun.
Perjalanan mereka diawali dengan mencari Earl's Court. Kenapa? Karena sang earl yang tahu cara mencapai Malaikat Islington. Kenapa Malaikat Islington? Karena almarhum ayah Door mengatakan gadis itu harus mencari perlindungan pada si malaikat. Kunci yang diberikan sang earl: mereka harus mencari Angelus. Maka mereka mencari Angelus dalam British Museum di London Atas. Via Angelus, mereka menemui Malaikat Islington. Si malaikat minta mereka mencari sebentuk kunci yang disimpan para Black Friars, baru akan memberitahu siapa yang membunuh keluarga Door. Maka itulah yang mereka lakukan.
Di pintu biara Black Friars, Hunter menghadapi tantangan pertama: perkelahian. Door menghadapi yang kedua, teka-teki. Richard tersisa untuk menghadapi tantangan utama: Ujian Kunci. Tantangan ini tidak menggunakan fisik, atau akal, tapi emosional dan ketahanan. Richard dibujuk setengah mati untuk bunuh diri, dan hampir terbujuk. Tapi dia berhasil melewati ujian ini. Mereka segera membawa kunci tersebut pada Malaikat Islington, hanya untuk mendapati kejutan terakhir.
Novel ini memesona gue bukan hanya dalam hal fantasi dan keliaran imajinasi pengarangnya. Bukan hanya karena logika ceritanya, yang membuat tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi juga karena sentuhan rasa, empati, dan kasihnya. Juga karena pengetahuan dan sinismenya (Marquis de Carabas yang licik, ternyata nama tokoh pemuda desa yang lugu dalam kisah Kucing Bersepatu Lars; Peta jaringan kereta bawah tanah London yang disertakan juga bisa membuat kita membayangkan perjalanan Richard dkk). Dan karena ungkapan-ungkapan yang diciptakan sendiri oleh Gaiman, misalnya pada bab 1, dia menggunakan burung kenari sebagai analogi sifat licik. Wow. Siapa yang terpikir? Tapi omong-omong si Tweety Bird yang imut itu memang bandel dan licik, kan?
*crossposting di www.cdonnaw.blogs.friendster.com*
Posted at 01:03 pm by cjdw
Permalink
|